Advertising






Advertising







“Ada sedikit kebenaran dibalik setiap (cuma bercanda)
 Sedikit keingintahuan dibalik setiap (cuma penasaran)
 sedikit pengetahuan dibalik setiap (saya tidak tahu)
 dan sedikit emosi dibalik setiap (saya tidak peduli)”

Unknown

“Ambillah kasih, maka perkawinan kita pun menjadi medan peperangan” – Debra White Smith

“Seringnya kita meremehkan kekuatan sebuah sentuhan, sebuah senyuman, kata-kata yang baik, sebuah pujian yang tulus, atau tindakan peduli yang kecil, semuanya yang  begitu berpotensi mengubah dunia sekitar kita” - Leo Buscaglia

4 Pengendara Kuda Akhir Jaman yang menyebabkan Berakhirnya Pernikahan


Dr. John Gottman melakukan penelitian tentang cara berkomunikasi yang mengakibatkan berakhirnya pernikahan, yang ia sebut dengan 4 pengendara Kuda akhir jaman (ini diambil dari perumpamaan di alkitab, Wahyu, dimana keempat pengendara kuda tersebut adalah, penaklukan, perang, kelaparan dan kematian yang akan terjadi di akhir jaman).

 

Dalam pernikahan, 4 pengendara kuda yang digambarkan Dr. Gottman adalah kritik, penghinaan, membela diri, dinding batu alias diam seribu basa. Penghinaan adalah yang paling berbahaya dari keempat kuda tersebut. Penghinaan seperti ‘hujan asam’ dalam pernikahan, membuat kasih sayang mati dan menghancurkan harapan. Jadi jika kamu ingin terus hidup dalam pernikahan, hilangkan empat hal ini – penghinaan harus pergi duluan.

 

Kehancuran pertama dalam suatu hubungan dimulai dari kritik. Mengertilah bahwa kritik itu berbeda dengan mengeluh, karena kritik bisa membawa ke jurang yang licin bernama ‘penghinaan’.

 

Kritik biasanya muncul saat keluhan tidak ditanggapi. Kritik adalah penyerangan terhadap karakter atau nilai seseorang, yang merendahkan orang tersebut. Keluhan adalah pernyataan obyektik tentang keinginan yang tidak terpenuhi. Keluhan akan menjadi efektif apabila dilakukan sebagai berikut :

 

  1. Mulailah dengan lembut, dengan permintaan ‘tolong’.

Saya butuh pertolonganmu


2.   Amati tindakan atau tingkah laku. 

Saya melihat tumpukan surat di meja makan dan dapur


3.   Ungkapkan akibat dari tindakan atau tingkah laku tersebut

Saya jadi merasa buruk melihat tumpukan surat tersebut


4.    Nyatakan keinginan perubahan atas kebiasaan tersebut

Saya ingin supaya meja makan dan dapur tetap bersih


5.   Tanya masukannya bagaimana mencapai hasil yang diinginkan

Apakah kamu mau membantu saya mengurangi tumpukan surat di dapur, supaya saya lebih tenang ?

 

Pengendara kuda kedua adalah penghinaan. Penghinaan akan menyiksa pasangan – secara langsung, emosional dan psikologis. Penghinaan memperlihatkan tidak adanya lagi penghormatan dan disampaikan dengan cacian, nama sebutan, humor yang mencaci, mengejek dan bahasa tubuh. Penghinaan adalah racun dan kehadirannya menandakan ketidakharmonisan pernikahan. Penghinaan harus dihilangkan.

 

Jika kritik dan penghinaan adalah bagian dari pernikahanmu, segeralah mencari konselling atau terapis untuk menolongmu keluar dari masalah tersebut. Banyak dari ‘kritik dan penghinaan’ yang tumbuh karena ‘luka hati’ di masa kecil, misalnya kritik orang tua, terhina, diremehkan atau dituntut secara berlebihan.

 

Pengendara kuda ketika adalah pembelaan diri.  Pembelaan diri muncul secara langsung ketika seseorang dikritik atau dianggap remeh. Tapi ini juga merupakan cara menghindari tanggung jawab. Jika kita tidak menanggapi keluhan, gagal untuk memberikan solusi, keluhan akan menjadi kritik, yang akhirnya akan kita balas dengan pembelaan diri. Ingatlah mantra berikut ini :

 

Jangan menyerang. Jangan membela diri. Jangan mundur dan menghilang.

 

Pernikahan adalah untuk saat baik dan saat buruk. Tetaplah berada disana, khususnya saat keadaan menjadi buruk.

 

Pengendara kuda keempat adalah dinding batu alias diam seribu basa. Ketika kita menjadi dinding batu, ketika menghindari ‘sakitnya bertumbuh bersama’, itu mungkin disebabkan karena kita tidak menyadari perasaan kita sendiri atau karena kita takut menghadapi konflik. Jadi daripada kita menghadapi langsung masalah tersebut bersama pasangan kita, kita memilih untuk ‘balik badan’, menjauh dan menyibukkan diri dalam hal lain. Kita menjadi berhenti berhubungan dengan orang terpenting dalam hidup kita.

 

Penelitian Dr. Gottman menjelaskan bahwa konflik atau masalah bukanlah penyebab ketidak bahagiaan pernikahan. Tapi bagaimana menghadapi konflik atau masalah itu lah yang membuat perbedaan dalam pernikahan yang bahagia dan pernikahan yang hancur.

 

Banyak orang menunggu dan berdiam diri, bahkan ada yang menunggu sampai 6 tahun, sebelum akhirnya mereka menyadari bahwa mereka harus melakukan konseling untuk masalah pernikahan mereka. Penelitian membuktikan bahwa pergi konseling atau terapi untuk pribadi dan keluarga, menolong kesehatan, mengurangi absen dalam pekerjaan, dan meningkatkan produktivitas.

 

Mulailah dimanapun hubunganmu berada sekarang. Gunakan apa yang kamu tahu, lakukan apa yang menjadi tanggung jawabmu untuk menjadi terbaik yang kamu bisa.