Anak-Anak Surgawi

Advertising






Advertising






“Hal terbesar yang dapat diperbuat seorang ayah bagi anak-anaknya adalah dengan mengasihi ibu mereka. Dan hal terbesar yang dapat diperbuat seorang ibu bagi anak-anaknya adalah dengan menghormati ayah mereka” – Josh Mc Dowell

"Apabila kita sebagai orang tua menginginkan anak-anak Ilahi, kita harus menjalani kehidupan yang Ilahi sebagai teladan" - Myles Munroe

“Setiap anak lahir dengan pesan bahwa Allah tidak pernah putus asa dengan manusia” – Rabindranath Tagore

Beberapa waktu lalu sebuah kota kecil di Amerika dikejutkan dengan berita mengerikan : seorang pemuda berumur 20 tahun membantai 20 anak di sekolah Dasar, dan 7 orang dewasa termasuk ibu dan dirinya sendiri. Teman-teman yang pernah bersekolah sekelas dengannya mengatakan bahwa ia adalah anak yang sangat pintar walaupun pendiam, tidak pernah ia melakukan kekerasan apapun sebelumnya. Berita yang begitu memilukan hati semua orang yang mendengarnya itu, meninggalkan kita dengan pertanyaan  tentang  apa yang sebenarnya terjadi sehingga seorang pemuda kelihatannya baik-baik nekat melakukan kebiadaban itu. Tidak ada satu orang tua pun di dunia ini yang menginginkan anaknya bertumbuh besar untuk menjadi pembunuh.

 

Di Indonesia, kita dikejutkan lagi oleh berita tragis tentang anak umur 11 tahun yang meninggal dunia akibat menderita radang otak dan kerusakan vagina karena diperkosa oleh bapak kandungnyanya sendiri. Ini bukannya satu-satunya kasus pelecehan seksual pada anak di Indonesia. Ketua Komisi Nasional (Komnas) PA, Arist Merdeka Sirait menyebutkan, tahun 2011 ada 2.509 laporan kekerasan, 59 persen di antaranya adalah kekerasan seksual. Sementara tahun 2012 diterima 2.637 laporan, 62 persen di antaranya adalah kekerasan seksual. Dan angka-angka ini pun, menurut dia, sama sekali tak mencerminkan situasi perlindungan anak yang sesungguhnya, karena ia menduga kenyataan di lapangan angka kekerasan seksual pada anak jauh lebih tinggi. Tidak ada seorang anak pun di dunia ini yang ingin dilahirkan hanya untuk menjadi korban kekerasan orang tua mereka.

 

Myles Munroe dalam bukunya ‘The Purpose and power of Love and Marriage’ mengatakan bahwa lembaga keluarga saat ini di bagian dunia manapun sedang mengalami serangan musuh secara besar-besaran. Ini adalah masalah nomor satu yang dihadapi oleh dunia. Hancurnya keluarga akan menyebabkan runtuhnya peradaban, karena keluarga adalah unit pertama dan unit dasar dalam masyarakat dan budaya. Dengan kata lain, kondisi keluarga mencerminkan kondisi masyarakat. Sama seperti bangunan hanya sekuat bahan yang membangunnya, maka masyarakat pun hanya sekuat keluarga-keluarga didalamnya.  Oleh karena itu, obat bagi masalah sosial, psikologis, emosional, rohani dan penduduk yang kita hadapi dalam masyarakat adalah dengan pemulihan dan pembangunan kembali keluarga.

 

Kitab kejadian secara spesifik menyatakan tujuan Allah untuk keluarga (kejadian 1 : 27-28). “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka ‘Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhi bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi”. Kehendak Allah adalah untuk memenuhi manusia yang dibuat menurut gambarNya dan keluarga adalah jalan yang Ia pilih untuk mencapainya.

 

Keluarga terbentuk ketika suami dan istri bersama-sama membangun sebuah pernikahan, anak-anak lahir, tumbuh menjadi dewasa dan membentuk keluarga mereka sendiri. Keluarga adalah tempat dimana orang tua menabur dan apa yang ditabur oleh orangtua mempunyai efek yang sangat panjang karena berpengaruh kedalam kehidupan anak-anaknya dan kehidupan anak-anak mereka selanjutnya. Ayah dan Ibu membuat model dalam kehidupan keluarga, yang nantinya akan ditiru oleh anak-anaknya dan suatu hari nanti akan diturunkan kembali  ke anak-anak mereka dan seterusnya.

 

Begitu besarnya tanggung jawab yang harus dipikul oleh orang tua, oleh karena itu orangtua yang memutuskan untuk mempunyai anak-anak dan membesarkan mereka haruslah melakukan perencanaan yang matang. Apakah mereka menginginkan untuk mempunyai anak? Kapan mereka akan mempunyai? Berapa banyak anak yang mereka inginkan?

 

Faktor keuangan merupakan salah faktor penting yang perlu dipertimbangkan oleh orangtua, apakah penghasilan orangtua cukup untuk mengurus anak dan membesarkan mereka. Pepatah jawa lama yang mengatakan tiap anak mempunyai rejekinya sendiri-sendiri, tidak bisa dijadikan pegangan. Karena jika memang benar, maka seharusnya tidak ada lagi anak-anak yang hidup meminta-minta hanya untuk sekedar makan, tapi kenyataannya jauh berbeda. Orangtua harus merencanakan berapa banyak uang yang akan dihabiskan untuk membiayai dan membesarkan anak-anak mereka, mulai dari bayi saat mereka lahir, sampai ketika mereka harus bersekolah.

 

Selain faktor keuangan, faktor kedewasaan orang tua juga harus diperhitungkan, jika orang tua belum dewasa secara emosional dan rohani, bagaimana mereka bisa bertanggung jawab untuk mengurus anak-anak yang nantinya akan sangat tergantung pada mereka secara fisik, material dan emosional. Orang tua adalah panutan dan model bagi anak-anak mereka. Adalah tanggung jawab orang tua untuk membesarkan anak-anak dalam rumah yang stabil secara keuangan, emosional dan rohani.

 

Menjadi orang tua yang baik bukanlah kebetulan. Menjadi orangtua yang baik harus fokus dan sungguh-sungguh terhadap tujuan mereka ketika merencanakan mempunyai anak-anak. Orangtua harus merencanakan untuk berhasil dan keturunan Ilahi adalah tujuan utamanya. Apabila anak-anak tumbuh menjadi orang-orang dewasa yang bernilai moral tinggi, beretika baik, berguna bagi lingkungannya dan melayani Tuhan, maka kita sudah bisa disebut berhasil sebagai orang tua.

 

Anak-anak adalah harta pusaka kita di bumi yang diberikan oleh Allah (mazmur 127 : 3). Sebagai harta pusaka,  orangtua harus bertanggung jawab dan berkewajiban untuk membesarkan mereka menjadi keturunan ilahi yang akan memuliakan dan menghormati Bapa di Surga.

 

Silta NS