Apakah Kamu Sanggup Menikah?

"Bukalah mata anda lebar-lebar sebelum menikah dan setengah tertutup sesudahnya" - Thomas Fuller


“Satu hal tersulit dalam kehidupan doa pribadi kita adalah untuk menerima dengan sukacita dan bukan dengan kesedihan, jawaban doa-doa kita yang paling dalam. Butuh waktu yang lama untuk saya menyadari apa yang datang sebagai jawaban doa saya. Saya berharap jawaban yang berbeda sehingga saya tidak mengenali begitu jawaban doa itu datang. Dan Tuhan tidak menjelaskan. Dia percaya bahwa kita tidak akan tersinggung. Itu saja” – Amy Carmichael dalam Candles in the Dark

 

 

Bagaimana rasanya menikah? "Berjuta rasanya" kata pasangan yang baru saja melangsungkan pernikahan mereka dengan riang gembira. Kalau pertanyaan yang sama diajukan ke pasangan yang sudah menikah 5 tahun lebih, mungkin mereka akan menjawab "berjuta rasanya" sambil mengeleng-gelengkan kepala. Menikah pada kenyataannya memang bukanlah hal mudah, sehingga banyak orang yang mengalami kegagalan dalam pernikahan mereka. Myles Munroe dalam bukunya The Purpose and Power of Love and Marriage mendaftar ada 8 ciri-ciri pribadi dan karakter yang "sanggup menikah".

 

Yuk coba cek, apakah kamu dan pasangan memiliki ciri-ciri tersebut ;-)

 

 

1. Kesanggupan beradaptasi terhadap kondisi yang berubah-ubah.

Andai pernikahan bisa diramal, pasti semua pernikahan akan berjalan lancar sesuai rencana. Seringnya banyak situasi tak terduga muncul menganggu, memaksa kita mengubah rencana. Bersatunya dua orang yang sama sekali berbeda akan memerlukan fleksibilitas, jadi kita harus bersiap-siap untuk beradaptasi. Bersiaplah untuk berubah. Anggap saja ini adalah kesempatan untuk bertumbuh, walau bukan ke arah yang kita mau sebelumnya.

 

2. Kesanggupan berempati, peka terhadap kebutuhan, luka hati dan keinginan orang lain

Ketika konflik terjadi dalam pernikahan, sering kita tidak mengerti mengapa pasangan bereaksi atau bertindak lain, tidak seperti yang kita pikirkan atau harapkan. Kalau saja, kita mampu menempatkan diri dalam posisi pasangan dan melihat 'dunia' dari perspektif pasangan, barulah kita bisa mengerti kenapa dia bereaksi seperti itu dan kita bisa menerima reaksi pasangan dengan baik.

 

3. Kesanggupan untuk mengatasi masalah.

Pernikahan membutuhkan dua pribagi yang sanggup untuk mengidentifikasi dan menganalisis masalah, mengusulkan dan memilih solusi yang baik dan bertindak sesuai keputusan bersama. Kalau salah satu dari pasangan menghindari dan tidak mau membahas masalah, akhirnya masalah yang mungkin kecil lama kelamaan akhirnya akan menjadi besar dan menganggu pernikahan.


4. Kesanggupan untuk memberi dan menerima kasih.

Ini tidak semudah kedengarannya, khususnya bagi kebanyakan laki-laki. Memberi dan menerima kasih lebih alami pada perempuan. Sebaliknya laki-laki, karena sudah lekat dengan predikat 'laki-laki macho', banyak laki-laki sulit untuk mengekspresikan perasaan mereka yang sebenarnya. Pernikahan adalah 'memberi dan menerima' terus menerus.

  

5. Stabilitas emosional, sanggup mengendalikan emosi.

Ini berarti kita bisa mengendalikan amarah dan tidak membuat alasan saat kita meledak dalam emosi. Kalau ada orang yang sering meledak dalam emosi atau kemarahan dan berkata, "saya tidak sanggup menahannya", sebenarnya dia tidak jujur. Karena biasanya ini bukanlah masalah sanggup atau tidak sanggup menahannya, melainkan mau atau tidak mau menahan emosinya sendiri. Stabilitas emosional berarti kita bersedia dan sanggup menerima tanggung jawab atas perasaan, perkataan, dan perbuatan kita sendiri.


6. Kesanggupan berkomunikasi.

Ini berarti kamu sanggup untuk memastikan bahwa pasangan mengerti tidak hanya apa kamu yang dikatakan, tapi juga apa yang kamu maksudkan. Ini juga berarti sebaliknya, kamu sanggup untuk mendengarkan dan mengerti pasangan kamu.


7. Persamaan antara kedua pasangan.

Pernikahan adalah penyatuan dua orang yang sepenuhnya berbeda, tapi harus ada beberapa kemiripan yang nyata pula, misalnya : minat atau hobi bersama, iman yang sama atau pandangan politik yang sama. Harus ada pertemuan yang sama diantara keduanya,kalau tidak lama kelamaan pasangan akan saling menjauhi satu dengan yang lain.


8. Latar belakang keluarga yang serupa.

Walaupun ini bukanlah faktor yang terlalu penting (karena banyak pasangan yang berlatar belakang berbeda sukses dalam pernikahannya) latar belakang keluarga yang serupa lebih menguntungkan, ini merupakan nilai 'plus' dalam pernikahan