Advertising






Advertising






“Seni berkomunikasi sejati  bukan hanya pada mengatakan kata-kata  yang tepat pada waktu yang tepat, tapi juga untuk berdiam diri untuk tidak mengatakan kata-kata yang buruk pada saat yang menggoda” - Unknown

“Kadang-kadang orang-orang yang melukai kita adalah orang-orang yang jauh lebih terluka daripada kita” - Philippos

“Jangan membuat keputusan permanen saat mengalami sesuatu yang sementara...” – Rozell

Bagaimana Bertengkar dalam Pernikahan - Mulailah baik-baik dan Akhirilah dengan baik

Satu hal menarik yang mungkin kamu sudah tahu – istri adalah yang pertama memulai ‘mengungkit’ masalah !


-   Kapan kamu akan membersihkan garasi?

-   Apa yang salah dengan ibumu?

-   Kamu harus melakukan sesuatu dengan anak-anak. 

-   Kamu jarang berada di rumah akhir-akhir ini

-   Kamu tidak pernah meminta kenaikan gaji pada bos mu

-   Kapan kita akan pergi liburan lagi?


Yakinlah bahwa suamimu pasti sudah tahu hal ini. Secara alami, hal itu sudah ada di gen kita, kita lebih fokus pada relasi/hubungan.


Pasangan dimana saja bertengkar karena hal yang sama, baik itu pasangan yang pernikahannya bahagia atau yang pernikahannya hancur, pasangan yang mesra atau pasangan yang merana. Bertengkar bukanlah penyebab pernikahan yang tidak bahagia – tapi yang membedakan adalah bagaimana cara pasangan tersebut menghadapinya.


Setelah 38 tahun menikah ‘lebih bahagia daripada pasangan rata-rata’, saya bisa menjamin hal ini – kami masih bertengkar karena hal yang sama, dan sayalah yang pertama kali memulai pembicaraan sebelum berubah menjadi pertengkaran.

 

Yang saya pelajari (dengan cara yang tidak mudah) adalah ‘bagaimana saya memulai membicarakan masalah tersebut’. Semakin lembut saya membicarakan masalah tersebut, semakin jaranglah kami bertengkar. Bahkan cara kita memulai merupakan pertanda baik akan bagaimana kita mengakhiri pembicaraan tersebut.

 

Beginilah cara saya belajar untuk memulai pembicaran dengan lembut :


1. Cari waktu yang tepat.

Saya telah mempelajari suami saya selama 38 tahun, tahu kapan dia sedang menghadapi tekanan atau tidak, dan bisa memprediksi sukses atau gagalnya suatu pembicaraan.


2.   Membicarakan ‘bagian’ saya dulu.

Saya punya ‘bagian’ dalam setiap masalah. Sedikit banyak saya pasti juga punya andil dalam setiap masalah. Kadang saya tahu apa yang saya lakukan, kadang saya tidak tahu sama sekali. Kadang-kadang kami berdua tidak tau ‘bagian’ kami dalam masalah tersebut. Tapi saya pasti punya andil dalam masalah tersebut, jadi saya menyebutkannya dan ini menjadi tempat terbaik saya untuk memulai pembicaraan. Jika saya tidak menyadari ‘bagian’ saya dalam masalah itu, saya bertanya kepada suami saya (jangan lakukan ini jika pernikahanmu sedang dalam keadaan tidak stabil).


3.   Fokuslah pada kenyataannya.

Semakin jelas saya menerangkan tentang ‘tindakan atau kejadian’ ketimbang menghakimi motif atau mencap ‘tindakan atau kejadian’ tersebut, makin suami saya menerima keluhan saya. Suami saya bisa menerima ketika saya mengatakan bahwa sepatunya tercecer di kolong meja – dia tidak bisa menerima kalau saya mengatakan bahwa dia ceroboh dan meninggalkan sepatunya di kolong meja.  


4.   Mencari hal yang baik

Mengingat hal-hal baik yang pernah ia lakukan ketika saya sedang membicarakan masalah akan mengingatkan kami berdua bahwa kami berdua lebih penting dari masalah tersebut. Jika masalahnya tentang ‘berantakan’, saya mengingatkan dia bahwa dia sudah menjaga hal-hal yang lain bersih. Jika masalahnya tentang liburan, saya mengingatkan tentang indahnya liburan kami yang lalu.


5.   Jangan menumpuk masalah.

Banyak wanita senang menyenangkan hati orang – banyak pria adalah pria yang baik. Kita bisa akrab bersama, menyimpan sakit hati, duka dan kepahitan sampai bertumpuk-tumpuk – yang suatu ketika kita bisa buang langsung secara bersamaan. Tidak ada yang menyenangkan dari menumpuk masalah. Kamu saja tidak bisa fit dengan hanya pergi sebulan sekali ke tempat gym, lalu bagaimana hubungan bisa baik kalau kamu membuang masalah emosional hanya sebulan sekali.


6.   Buatlah sederhana saja

Saya menyukai gambar yang menunjukkan cara otak wanita bekerja - lihat di bagian kiri, kotak cara otak wanita bekerja ( setiap titik bola biru adalah pikiran wanita tentang apa yang harus dilakukan, keputusan yang harus diambil atau masalah yang harus dipecahkan. Pria, tentunya hanya mempunyai 2 bola dan mereka berpikir sederhana saja). 

Beginilah cara pikiran saya bekerja ……..

Saya mendapat email dari situs liburan yang saya sukai, saya membaca sebuah blog tentang tempat yang bagus dan keuntungan menukar rumah untuk liburan dan pergi ke tempat yang eksotik dan saya berpikir kapan terakhir kami pergi liburan, dan apakah kalo kami bertukar rumah dengan orang lain saat liburan, kami akan mampu untuk pergi ke tempat…… dan seterus dan seterusnya.

Jujur, kadang saya sering hilang dalam pikiran saya sendiri !! 

Yang bisa saya tanyakan pada Chuck (suami saya) cuma pertanyaan singkat (dari semua pemikiran saya tersebut), kapan waktu yang tepat untuk membicarakan liburan?


Meskipun wanitalah yang sering membicarakan topik-topik yang sensitif, kita sendiri tidak menguasai ‘medannya’. Periksalah dirimu dulu. Karena kita akan membicarakan masalah yang sama seumur pernikahan kita, tingkatkan kemungkinan bahwa pembicaraan dengan pasangan akan berakhir dengan baik, dengan memulainya secara lembut.


Catatan – Mencari pasangan baru tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan tersebut. Jika kamu mencari pasangan baru, biasanya masalahnya tidak pernah berubah – kamu hanya akan membawa masalah yang sama yang terjadi sekarang dan bertengkar dengan pasangan yang baru dengan cara yang lama.