“Untuk orang yang tidak beriman, tidak diperlukan penjelasan apapun. Tapi bagi orang yang tidak punya iman, penjelasan apapun tidaklah mungkin” – St. Thomas Aquinas


Pengakuan :

(katakan dengan keras)

Saya orang Percaya

Saya bukan orang yang ragu-ragu

Saya mempunyai iman

Iman saya bekerja

Iman saya kepada Allah Bapa

Iman saya kepada Tuhan Yesus Kristus

Iman saya kepada kitab Suci, Firman Tuhan

Firman Tuhan itu benar

Saya percaya kepada Firman Tuhan

Oleh karena itu saya percaya pada Tuhan

Firman Tuhan itu nyata !

Firman Tuhan / Alkitab adalah Dasar Iman

 

Alkitab mencakup semua hal yang kamu percayai. Jangan pernah melenceng dari Alkitab.

 

Selama beberapa tahun banyak orang yang datang kepada saya mengatakan hal-hal yang serupa seperti ini, “Pendeta Hagin, saya ingin anda berdoa untuk saya mengenai hal ini……..”

 

Kemudian saya berbalik bertanya kepada mereka, “Ayat apa yang akan kamu gunakan sebagai dasar imanmu?”

 

Delapan dari sepuluh orang – dan rekor itu masih bertahan  sampai sekarang – mereka memandang kepada saya dengan tatapan kosong dan berkata, “sebenarnya tidak ada hal yang khusus.”

 

Saya berkata,”itulah yang akan kamu dapat – tidak ada yang khusus. Kamu tidak mempunyai sumber untuk beriman. Iman itu didasarkan pada apa yang Tuhan katakan. Iman pada Tuhan berarti iman pada Firman Tuhan.

 

Banyak sekali kita menggunakan kata-kata secara asal. Ketahuilah bahwa ketika kita bicara mengenai iman, kita bicara mengenai iman kepada Allah – dan iman kepada Allah adalah Iman kepada FirmanNya. “…. Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Kristus” (Roma 10:17). Kamu tidak akan pernah punya iman untuk sesuatu jika kamu tidak mendengar Firman Tuhan mengenai hal itu.

Kenalilah dan sadarilah. Temukan Firman Tuhan yang mencakup masalahmu. Temukan Firman yang menjanjikan apa yang sedang kamu doakan. Jadi kamu mempunyai sumber yang pasti untuk iman.

 

Jika sesuatu masalah muncul – sekalipun saya tahu ayat Alkitab yang mencakup masalah itu dan saya dapat menyebutkan kembali semua ayat itu – saya tidak langsung berdoa untuk masalah itu secara langsung. Saya merenungkan Firman itu. Saya membaca kembali ayat Alkitab yang saya ambil. Saya renungkan, renungkan dan merenungkannya kembali – kadang-kadang sehari sampai dua hari. (tentunya hal ini berbeda jika ada masalah yang darurat). Saya merenungkannya lagi dan lagi. Dengan melakukan hal itu, saya membangun Firman Tuhan kedalam roh saya secara sadar. Dan saat saya siap untuk bertindak dengan iman, maka tidak ada keraguan disana, saya berdiri teguh.

 

Saya tidak bermaksud untuk meninggikan diri saya sendiri – saya mengatakan ini untuk memuliakan Tuhan dan FirmanNya – tidak pernah satu kali pun selama lebih dari 50 tahun doa-doa saya tidak terjawab (yang saya maksudkan adalah doa-doa mengenai saya pribadi. Kalau kita berdoa untuk orang lain, keinginan orang lain itu mempengaruhi doa tersebut). Jadi sejauh kebutuhan saya pribadi, saya tidak pernah tidak mendapat apa yang saya doakan.

 

Kadang-kadang itu butuh sedikit waktu. Saya berdiam dalam Firman Tuhan sebanyak mungkin yang saya bisa. Saya akan merenung berjam-jam mengenai Firman Tuhan yang mencakup apa yang saya percayai. Kemudian saya hanya mempercayai itu. Saya punya landasan yang pasti untuk iman saya.

 

Kadang-kadang saya harus melakukan penyesuaian sebelum jawaban itu bisa terjadi. Saya buat penyesuaian itu sesegera mungkin. Misalnya saja, ditahun 1949, saya meninggalkan gereja yang saya layani dan pergi ke ladang pelayanan sesuai dengan arahan Tuhan. Pada akhir tahun pertama perjalanan saya, saya berpuasa selama 3 hari dan berdoa. Saya mengingatkan Tuhan mengenai apa yang Ia katakan di perjanjian lama: “Jika kamu bersedia dan taat, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu” (yesaya 1:19 NIV).

 

(Ayat itu adalah milik kita juga. Kita dapat membuktikan dari perjanjian baru bawa kita adalah pewarisnya juga. Itu artinya kita akan beruntung dan mempunyai hal-hal yang baik. Tapi itu tidak berarti kita tidak akan pernah mengalami ujian – karena iblis akan memberi tekanan pada kita).

 

Saya berkata kepada Tuhan, “Tuhan, anak-anak saya tidak bisa makan dengan benar, mobil saya rusak, dan sekarang saya berada di ladang Tuhan dengan berjalan kaki. Saya merasa yakin bahwa saya tidak memakan hasil yang baik dari negeri ini – padahal Engkau sudah menjanjikan hal tersebut. Ada sesuatu yang salah disini.” (saya tahu masalahnya pasti ada di saya. Masalahnya tidak pernah ada di Tuhan).

 

Pada hari ketiga puasa saya, sejelas orang yang berbicara kepada saya secara dekat, Tuhan berkata kepada saya, “Teks yang sering kamu ambil dan sebutkan kepadaKu berbunyi, ‘Jika kamu bersedia dan taat.’ Kamu memang sudah taat, tapi kamu belum bersedia, kamu belum rela. Kamu tidak layak. Itulah alasannya mengapa ayat itu tidak bekerja bagimu.”

 

(saya selalu berusaha memperbesar bagian “taat” – Tuhan menegaskan di bagian bersedia/kerelaan. Kamu bisa saja mentaati Tuhan, sama seperti seorang anak mentaati orangtuanya tapi tidak menurut dengan kerelaan, dan kehilangan semuanya).

 

Saya mendapatkan kerelaan dalam 10 detik. Jangan katakan kepada saya bahwa itu butuh waktu lama. Saya tidak membutuhkan waktu lebih dari 10 detik untuk membuat sedikit perubahan didalam hati saya.

 

Kemudian saya berkata, “Tuhan, saya siap sekarang. Engkau sudah mengatakan bahwa saya taat. Dan sekarang saya bersedia dengan kerelaan. Saya tahu itu. Engkau juga tahu itu. Dan iblis juga tahu itu. Jadi sekarang, saya siap untuk mulai memakan hasil yang baik.”

 

Dia berkata, “Ya, engkau siap. Sekarang akan Kukatakan kepadamu apa yang harus kau lakukan.” Dia mengatakan kepada saya, dan saya memakan hasil yang baik semenjak itu.

 

Kenneth E Hagin - What to do when faith seem weak and victory lost