Friendship

"Persahabatan dimulai pada saat seseorang berkata pada orang yang lain : "Apa! Kamu juga? Saya pikir hanya saya yang mengalaminya" - C.S. Lewis  

“Saya belajar bahwa saya dan sahabat saya bisa melakukan apapun atau tidak melakukan apa-apa sama sekali, dan tetap merasa senang” – Pastor John Bright

"Kita akan jadi teman selamanya kan Pooh? tanya Piglet. "Bahkan lebih lama dari itu," jawab Pooh" - A.A. Milne, Winnie the Pooh  

“Ketika kamu menulis kisah hidupmu, jangan biarkan orang lain memegang pulpennya”- Harley Davidson

"Jangan takut untuk berubah. Kamu mungkin akan kehilangan sesuatu karena berubah, tapi kamu bisa mendapatkan sesuatu yang lebih baik”- unknown

Saya suka sekali film The Lord of the Ring, saya sudah menonton film itu berulang-ulang kali dan kemungkinan saya akan menontonnya lagi di masa mendatang. Saya menyukai cerita, musik, lokasi film yang menakjubkan, teknik komputer yang mereka pakai, semuanya menyihir saya masuk ke dalam dunia mereka “middle earth”. Tapi ada satu hal yang paling saya sukai dari film itu, kisah persahabatan mereka. Persahabatan Frodo dan Sam, yang sekalipun Frodo terpengaruh oleh kekuatan cincin, berkat bantuan Sam, Frodo berhasil melaksanakan misinya. Kisah Merry dan Pipin, dua manusia kecil yang sekalipun sering beradu argumentasi satu dengan yang lain, keduanya juga saling membantu dan begitu merasa kehilangan, ketika yang satu berpisah dengan yang lain. Atau persahabatan antara Aragorn, Legolas dan Gimli. Sekalipun ketakutan, Gimli dan Legolas mengikuti Aragorn kemanapun ia pergi, walaupun nyawa adalah taruhannya. Saya selalu merasa terharu setiap kali saya menonton ketiga seri film ini.

 

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, sahabat berarti teman, kawan, teman akrab atau teman karib. Setiap orang butuh teman, teman karib, butuh orang yang bisa menerima diri mereka apa adanya dan berjalan bersama. Banyak orang yang merasakan dengan memiliki persahabatan, hidup mereka menjadi lebih baik, bahkan banyak yang menjadi sukses karena ada orang-orang yang mendukung di belakang mereka. Di beberapa lingkungan kerja, kemungkinan kita akan lebih mudah mendapatkan kesempatan kerja kalau kita sudah punya teman yang bekerja disana, nepotisme kata bekennya. Walau kedengarannya kurang bagus, tapi itulah kenyataannya, bukan hanya ada di Indonesia saja, tapi hampir diseluruh dunia. Seorang teman memang kadang bisa memberi kita support dan dukungan yang kita butuhkan.

 

Tapi tak jarang, banyak juga yang terjerumus ke dalam hal-hal yang negatif karena teman. Banyak orang yang karena teman atau sahabatnya, akhirnya jadi ikut-ikutan ngerokok atau narkoba. “Nggak gaul lu ah”, begitu kata temannya, sehingga demi di sebut 'gaul’ mulai coba-coba dan akhirnya ‘ketagihan’. Saya pernah mendengar cerita seorang teman, yang karena teman dekatnya akhirnya jadi ketagihan narkoba, bahkan hamil. Semuanya dimulai gara-gara bergaul dengan temannya itu.

 

Alkitab mengatakan ‘Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik’ (1 korintus 15 : 33). Banyak dari kita yang tahu tentang hal ini, tapi banyak juga orang yang karena rasa percaya diri yang berlebihan, berpikir 'ah, itu kan orang lain, kalau aku mah nggak akan terpengaruh seperti itu'. Mereka mengacuhkan nasihat alkitab yang baik itu dan memilih untuk tetap berteman karib dengan orang-orang yang kebiasaannya kurang baik. Perlahan-lama dan tanpa mereka sadari, mereka akan menjadi terbiasa dengan sikap dan tingkah laku mereka. Dulu kupingnya mungkin merasa sakit mendengar dan matanya lelah melihat kelakuan teman-temannya, lama-lama akhirnya terbiasa melihat dan mendengar itu semua. Kemudian cepat atau lambat, sikap dan tingkah laku nya mulai berubah, meniru teman-temannya itu. 

 

Hal-hal yang baik sangat mudah sekali di rusak oleh sesuatu yang buruk. Suatu kali, saya tanpa sengaja, menyimpan sisa kulit pisang dalam tas saya. Saya lupa untuk membuangnya di tempat sampah. Seminggu kemudian, ketika saya membuka tas saya lagi, saya mencium bau yang begitu sengit dalam tas saya, dan tampak banyak lendir-lendir. Iiih, baunya sangat menyengat, rasanya ingin saya buang tas itu. Gara-gara kulit pisang, tas yang harganya berkali-kali lipat dari harga pisang setandan itu pun hampir melayang. 

 

"Tapi saya ini justru mau berteman dengan teman saya itu, supaya dia bisa berubah dan menjadi lebih", begitu mungkin kata seseorang. Jawaban saya cuma satu : sulit. Lebih mudah untuk seseorang berubah menjadi buruk daripada mengubah seseorang menjadi lebih baik. Kalau tidak percaya, cobalah berdiri dengan seorang teman di tangga, pilih saja teman yang lebih kecil dan kurus darimu. Lalu berdirilah di anak tangga yang lebih tinggi dari temanmu, biarlah ia berdiri di bawah anak tangga yang lebih bawah. Cobalah tarik tangan temanmu dan biarkan temanmu menarik tanganmu kembali, perhatikan apa yang terjadi. Jauh lebih mudah buat temanmu menarikmu ke bawah, ketimbang kamu menariknya ke atas. Karena itulah gaya gravitas bumi yang bekerja, bumi menarik segala sesuatu ke bawah. Sama dengan dunia, dunia berusaha menarik semua orang yang hidup di dalamnya turun ke bawah, menjadi lebih buruk. Jangankan mengajak temanmu untuk berubah, untuk mengubah diri kita sendiri saja supaya menjadi lebih baik sulitnya minta ampun.

 

Bergaulah dengan si pemarah, niscaya tak akan lama kamu akan sering marah-marah. Bergaul lah dengan penggosip, dijamin tidak sampai sebulan, kamu akan menjadi penggosip lihai. Bergaul lah dengan shopaholics, kamu akan terbiasa dengan mereka dan akhirnya lama-kelamaan tiap kali kamu mempunyai uang (bahkan seringnya tidak) kamu akan berbelanja. 

 

Tapi cobalah bergaul dengan orang bijak, lambat laun prinsip - prinsip hidup orang tersebut akan masuk ke dalam hidupmu dan membuatmu lebih bijak. Bergaul lah dengan teman-teman yang ‘positif thinking’, lama kelamaan kamu memandang hidupmu dengan cara yang lebih positif. Jika kamu bergaul dengan orang-orang yang sukses, kamu pun akan terbawa kepada cara berpikir dan kebiasaan yang menjadikan mereka sukses. Jangan biarkan rasa minder atau iri hati melihat kesuksesan seseorang membuatmu tidak mau berteman atau malah meninggalkan teman itu. Justru kamu harus belajar dari kesuksesan temanmu dan menjadi lebih baik.

 

Itu bukan berarti kamu tidak boleh berteman dengan orang stress, orang depresi, orang narkoba, atau orang negative thinking, silakan saja berteman dengan mereka, sayapun begitu. Tapi janganlah berteman karib dengan mereka, jangan meminta pendapat atau bertukar pikiran tentang masalah-masalah hidupmu dengan mereka, karena nanti mereka akan menularkan ‘virus negatif’ kepadamu. Mereka saja tidak bisa menolong diri mereka sendiri, bagaimana mereka dapat menolongmu? Disaat kamu merasa down, sedih atau banyak masalah, curhatlah pada teman-temanmu yang ‘positif thinking’, yang telah terbukti menjalani hidup mereka dengan baik, dijamin perlahan-lahan kamu akan berubah menjadi lebih positif dalam memandang masalah dan hidupmu sendiri. Di saat kamu gagal, berteman dan belajarlah pada teman-temanmu yang sukses dalam kehidupan mereka, lama kelamaan kamu juga akan sukses dan berhasil.

 

Siapa sahabatmu sekarang, dengan siapakah kamu curhat mengenai hidupmu, siapa yang kamu dengarkan, semuanya itu akan menentukan ke arah mana kamu akan menuju. Sama seperti Frodo yang mempunyai Sam sebagai sahabatnya, dan akhirnya keduanya menyelamatkan dunia ‘middle earth’, pilihlah sahabat-sahabatmu dengan baik, dengan berbuat begitu kamu sudah berbuat baik pada dirimu sendiri.

 

Silta NS

 

 

"Tidak ada seorangpun yang hidupnya sia-sia jika ia memiliki teman-teman” ini adalah kutipan dari film terkenal It's a Wonderful Life. Film yang indah ini menceritakan kisah tentang George Bailey yang ingin mengakhiri hidupnya karena merasa dirinya orang yang gagal. Ia disadarkan oleh seorang malaikat, Clarence, dan melihat apa yang terjadi pada keluarga dan teman-temannya jika dirinya tidak pernah dilahirkan di dunia. Di akhir film George menyadari bahwa hidupnya sangat berarti untuk orang-orang di sekelilingnya.

 

Pernahkah kamu berpikir tentang hal ini : apa yang akan terjadi pada semua orang di sekeliling kita apabila kita tidak pernah dilahirkan di dunia ini? Apa yang akan terjadi pada orang tua kita jika mereka tidak memiliki kita sebagai anak? Apa yang terjadi pada saudara-saudara kandung kita, sahabat kita atau orang-orang yang pernah kita temui di sepanjang jalan kehidupan kita?

 

Tanpa kita sadari, kehadiran kita di dunia ini memberi pengaruh pada orang-orang sekeliling kita, sedikit atau banyak, baik atau buruk.

 

Warna’ apakah yang sedang kamu berikan pada dunia sekelilingmu saat ini ?

 

Silta NS