Being Single and Happy

"Saya harus belajar mencintai kebodohan-kebodohan dalam diri saya, yang kadang merasa berlebihan, berbicara terlalu banyak, mengambil kesempatan terlalu banyak, sering menang tapi jarang mengalah, kehilangan kontrol diri, cinta dan benci, terluka dan terluka lagi, berjanji dan ingkar janji, tertawa dan menangis" - Theodore Isaac Rubin

“Kebahagiaan bisa ditemukan, bahkan di tempat tergelap sekalipun, jika hanya seseorang ingat untuk menyalakan terang” - Albus Dumbledore

“Hadapkan wajahmu pada sinar matahari dan kamu tidak akan bisa melihat bayangan. Itulah yang dilakukan bunga matahari” 

– Helen Keller

 

 Saya hanya seorang perempuan
Yang rambutnya mungkin tidak pernah kelihatan benar
Yang pernah beberapa kali terjatuh
Yang tidak berhenti menertawakan sesuatu yang terjadi kemarin

Yang menangis karena sesuatu yang tidak benar
tapi kadang-kadang,
Saya hanya perempuan yang tidak berhenti tersenyum di satu momen tertentu
Segala sesuatunya sempurna

 AMF

Apakah mungkin kita bisa hidup single tapi tetap happy? Tentu bisa, tapi itu tergantung pada tipe wanita seperti apakah kamu. Ada tipe wanita yang membutuhkan ‘hubungan dengan pria’ supaya bisa bahagia, tapi ada juga wanita yang bisa berbahagia tanpa pria di hidupnya. Saya punya teman-teman yang ketika tidak ada pria dalam hidup mereka, merasa kelabakan atau nggak lengkap, sepertinya ada yang kurang. Mereka merasa kurang bahagia tanpa pria yang mendampingi mereka. Ada yang beruntung, yang mendapatkan suami yang baik dan sekarang hidup bahagia bersama, tapi banyak juga yang karena ‘terburu-buru’ ingin mendapatkan suami (yang penting asal dinikahin) akhirnya berada dalam pernikahan yang ‘mati segan hidup tak mau’, bercerai salah – nggak bercerai salah.

 

Saya hidup single selama 36 tahun (bukan karena disengaja) dan sebagai seorang wanita single, saya suka menghindari ‘pertemuan-pertemuan’ tertentu. Saya selalu takut bertemu dengan mantan teman-teman sekolah dulu atau sanak saudara saya, entah dalam pesta pernikahan, natalan atau tahun baru atau bahkan kebaktian penghiburan (kematian). Karena entah siapa, pasti ada salah satu yang nyeletuk, “kapan nikah nih?” Biasanya selalu saya jawab, “tunggu aja undangannya, pasti nanti datang”. Padahal boro-boro mikir pernikahan, pacar aja nggak jelas. Seringkali dalam waktu-waktu tertentu, saya menangis seorang diri, bertanya pada Tuhan, kapan saya akan bertemu dengan jodoh saya dan menikah, 'saya capek hidup sendirian'. Sering saya berdoa kepada Tuhan dan berusaha mencari jawaban mengapa saya (dan beberapa teman saya) masih single, apakah Tuhan tidak menginginkan saya untuk berbahagia?

 

Kadang-kadang saya sering merasa bingung dengan pandangan orang-orang sekitar saya (yang juga mungkin bingung melihat saya yang masih single) kenapa sih mereka sepertinya benar-benar ingin melihat saya cepat-cepat menikah. Apa yang salah dengan menjadi single, toh itu juga bukan kemauan saya, lah wong saya belum bertemu dengan pria yang saya suka dan ingin menikahi saya, bagaimana mau menikah. Padahal kalau saya pikir-pikir, cuma sedikit pernikahan diantara teman-teman atau sanak saudara saya yang benar-benar bahagia dan bikin saya sirik. Kadang kala saya suka berpikir buruk, jangan-jangan  salah satu dari mereka ingin saya cepat-cepat menikah supaya saya bisa ikut merasakan penderitaan pernikahan, “welcome to the club”, hehehe…

 

Entah kenapa, banyak orang selalu memandang wanita single berbeda dengan wanita yang sudah menikah atau punya pasangan. “kapan punya pacar?”, “kapan nikah nih?”, “kapan punya anak?” begitulah biasanya pertanyaan yang sering dilontarkan orang-orang yang sering saya dengar. Menurut saya kebanyakan mereka menanyakan hal itu untuk ‘basa-basi’ aja, sekedar memulai omongan dengan saya, yang tanpa mereka sadari, pertanyaan mereka bikin saya mikir seharian atau bete sejenak. Lebih lucu lagi adalah cara banyak orang memandang wanita yang sedang bermasalah, kalau wanita single curhat soal stress yang mereka alami, biasanya sering dijawab “makanya cepat-cepat nikah lah”, tapi kalau yang sudah menikah punya masalah, biasanya dianggap wajar atau biasa saja, “biasalah itu… masalah rumah tangga”. Padahal ‘masalah rumah tangga yang biasa itu’ umumnya jauh lebih rumit, lebih stress, banyak tekanan, ketimbang masalah si single.

 

Saya juga sering memperhatikan bahwa beberapa orang-orang Kristen memberikan teladan yang kurang baik. Saya pernah merasakan ‘dianggap remeh’ karena saya masih single. Ada orang-orang Kristen yang berpikir bahwa saya pasti sudah melakukan dosa besar atau ada ‘keburukan’ di dalam diri saya, yang membuat Tuhan sepertinya ‘berlama-lama’ memberikan jodoh untuk saya. Beberapa orang menganggap bahwa ‘ada yang salah’ dalam kekristenan / ketaatan wanita-wanita Kristen yang masih single, sehingga mereka belum menikah. Tapi jarang sekali orang-orang yang berpikir ada yang salah dengan kekristenan / ketaatan wanita-wanita yang mempunyai masalah dengan pernikahannya. 

 

Dalam pencarian jawaban mengenai kebahagiaan wanita single, saya membaca banyak buku rohani. Salah satu buku yang pernah saya baca adalah buku ‘Yerusalem Memanggilku’ yang merupakan kesaksian hidup dari Lydia Prince, istri dari Derek Prince. Beliau berumur 50 tahun lebih ketika menikah dengan Derek Prince, hidupnya sangat berbahagia, baik semasa dia single ataupun saat dia menikah. Sewaktu muda, dia meninggalkan negeri asalnya, tunangannya, pekerjaannya dan pergi melayani Tuhan dengan merawat anak-anak yatim piatu di Yerusalem sendirian, tanpa pasangan atau keluarga. Lydia menemukan ‘tempatnya’, tempat dimana Tuhan ingin menempatkan dia, sehingga apapun yang dia alami disana, suka duka, sendiri atau beramai-ramai, dia merasakan kepuasan dan kepenuhan dalam hidupnya.

 

Saya sangat menyukai buku itu, karena buku ini menyadarkan saya bahwa kebahagiaan saya, kepenuhan hidup saya, sama sekali tidak ada hubungannya dengan status single saya atau tidak adanya pria dalam hidup saya.Tapi saya akan berbahagia dan merasa ‘penuh’ saat saya ‘bertemu’ dengan pencipta saya dan melakukan tujuan mengapa Ia menciptakan saya di dunia ini.

 

Sebelumnya saya berpikir saya akan bahagia kalau saya punya suami atau punya uang atau jika bisa jalan-jalan, atau jika punya sesuatu yang lain. Selalu saja ada alasan untuk bisa berbahagia, “saya akan berbahagia jikalau……” Dan karena saya tidak pernah memiliki ‘jikalau’nya itu, akhirnya sayapun tidak pernah benar-benar merasa kepuasan hidup. Ternyata saya salah. Saya mencari jawaban di tempat yang salah. Karena sekalipun saya mendapatkan ‘jikalau’ yang saya inginkan itu, saya hanya akan berbahagia sesaat saja, setelah itu saya akan kembali lagi dengan pernyataan “saya akan lebih berbahagia jikalau…..” untuk hal yang lain dan siklus itu akan terus berlanjut, tidak pernah ada titik hentinya. 

 

Beberapa tahun terakhir dalam hidup saya single saya itu, akhirnya saya menyadari bahwa kebahagiaan saya tergantung dari tujuan hidup yang saya jalani. Saya perlahan-lahan menyadari bahwa saya (pribadi) terpanggil untuk menolong dan berbuat baik kepada orang-orang lain dalam hal-hal bidang-bidang yang bisa saya lakukan. Ketika saya belajar untuk berbuat baik kepada orang-orang sekeliling saya, saya mulai dipenuhi dengan sukacita dan kegembiraan. Saya mulai menyadari ketika saya menolong seseorang, maka bukan hanya orang itu yang bahagia, tapi saya juga. Saya merasa diri saya 'penuh'.

 

Saya akhirnya menikah di usia 36 tahun. Beberapa minggu sebelum penikahan, saya dikagetkan oleh pertanyaan salah seorang sahabat saya, yang begitu peduli dengan saya. Dia menanyakan apakah saya sungguh-sungguh ingin menikah, karena menikah itu sangat berat untuknya dan dia tidak mau saya mengalami kekecewaan yang dialaminya. Saya tersentak mendengarnya dan makin menyadari bahwa sungguh pernikahan ataupun mempunyai pasangan bukanlah jawaban dari ketidakbahagiaan kita. Pernikahan atau mempunyai pasangan, cuma membuat kita pindah dari kotak masalah ‘single’ ke kotak masalah ‘double’.  I wish that everybody realize that.

 

Bagaimana dengan kamu hai para wanita single? Apakah kamu merasa bahagia, atau merasa kurang bahagia tanpa pasangan dalam hidupmu. Percayalah, pasangan ataupun benda-benda material lainnya bukanlah jawabannya. Kebahagiaanmu hanya dapat ditemukan ketika kamu ‘bertemu’ dengan penciptamu, mengetahui dan menjalani tujuan hidupmu di dunia ini. 

 

So being single and happy ?? Yes you can !!

 

Silta.ns