Hope never Fails

Advertising






Advertising






"Bertekunlah sedikit lagi, berusahalah sedikit lagi, dan apa yang terlihat seperti kegagalan tanpa pengharapan akan berubah menjadi kesuksesan yang gemilang" - Elbert Hubbard

"Everything that is done in the world is done by hope." - Martin Luther King

"Masa depan adalah milik mereka, yang percaya pada indahnya mimpi-mimpi mereka" - Tung Desem Waringin

“Pohon Oak yang terkuat di hutan bukanlah pohon yang terlindung dari badai dan tersembunyi dari matahari. Tapi yang tumbuh di tempat terbuka dimana ia harus memperjuangkan keberadaannya melawan angin dan hujan dan panas yang menyengat” – Napoleon Hill

“Di mata Tuhan, tidak ada kejutan. Kita manusia, dengan pandangan kita yang terbatas, kadangkala terkejut dengan kejadian-kejadian yang Dia biarkan terjadi. Tetapi Tuhan selalu mempunyai rencana dan menyediakan” – Unknown

My mood changed to bad again today, setelah menunggu telepon selama hampir 3 minggu, tidak ada satupun perusahaan yang menelpon untuk panggilan interview pekerjaan yang saya inginkan. Ada yang menawarkan pekerjaan, tapi itu bukan pekerjaan yang saya inginkan. Berbagai pikiran berkecamuk di kepala saya, apakah pengalaman kerja saya sebelumnya tidak berarti sama sekali, apa karena pendidikan saya berbeda dengan posisi yang lamar, apa karena hal ini atau karena hal itu. Begitu banyak pikiran yang ngalor ngidul di otak saya, 90% pikiran negatif.  

 

Beberapa minggu lalu, sewaktu saya mendapatkan ijin kerja di Canada, pengharapan saya membumbung di angkasa. Saya mengkhayal saat-saat saya bekerja nanti dan apa yang mau saya lakukan dengan gaji saya. Begitu banyak khayalan yang melayang-layang di otak saya, I was so happy with all those plans. Saya mengirim lamaran kerja dan menunggu, menunggu, dan menunggu lagi . Waktu terus berlalu dan tanpa ada kenyataan yang bisa saya lihat, perlahan namun pasti, pengharapan saya yang tadinya terbang ke awan-awan mulai turun dan jatuh.

 

Dalam keadaan putus asa seperti ini, saya cuma bisa berdiam berdiri, menatap keluar jendela , dan berteriak dalam hati kepada Tuhan, “Tuhan saya kecewa, saya butuh pertolonganMu untuk memandang masalah ini seperti  Engkau memandangnya.” Terduduk saya di kursi dan berdiam diri. 15 menit kemudian saya mendengar suara email masuk dalam handphone saya . Saya baca email tersebut, wow,  tawaran pekerjaan dari sebuah perusahaan, pekerjaan yang saya inginkan. Hati saya berdebar, sampai ketika saya membaca alamat pemberi pekerjaan, bukan di kota saya tinggal, tapi di kota lain yang jaraknya 3 jam perjalanan menyetir jauhnya. Hiks hiks...  Tapi entah kenapa, hati saya tertawa, sepertinya Tuhan sedang bercanda pada saya. Dia langsung menjawab doa saya lewat email itu supaya saya jangan putus asa dan jangan berhenti berharap.

 

Saya rasa bukan cuma saya yang pernah mengalami hal seperti ini, pasti ada yang pernah merasakan memiliki pengharapan yang mengebu-gebu, karena kelamaan menunggu, akhirnya berubah, turun dan patah.  Saya pernah mendengar orang mengatakan, jangan berharap yang ketinggian, nanti kalo jatuh sakit. Dalam keadaan seperti ini, saya pikir-pikir memang ada benarnya sih, jika saya berharap tidak terlalu tinggi maka saya tidak akan ‘jatuh’ terlalu tinggi. Tapi saya juga punya seorang teman, yang ‘pasrah’ dan ‘tidak berani berharap banyak’ dalam hidupnya. Mungkin dia jarang mengalami sakitnya jatuh dari langit pengharapan, tapi dia juga adalah seseorang yang jarang merasakan sukses atau kebahagiaan dalam hidupnya.

 

Saya ingat cerita tentang Abraham, Bapa orang beriman. Alkitab mengatakan Abraham harus menunggu 25 tahun lamanya sebelum akhirnya ia mendapatkan Ishak, anak yang dijanjikan Tuhan. Bayangkan menunggu 25 tahun, menunggu 3 minggu saja pengharapan saya yang tinggi, jatuh dan patah. Tapi Abraham, dalam Roma 4 : 18-21, dikatakan bahwa Abraham tidak bimbang (alias ragu) terhadap janji Allah, malah Ia diperkuat dalam imannya dan memuliakan Allah. Luar biasa yah...

 

Saya juga mempelajari bahwa pada jaman Abraham, janji adalah sumpah, ‘ketika kamu menjanjikan akan melakukan sesuatu, maka kamu terikat selamanya pada perkataanmu itu, tidak ada hal lain yang bisa kamu lakukan untuk melepaskan diri kamu dari perkataanmu itu, selain melakukannya'. Saya bisa bayangkan, betapa Abraham sangat paham dan percaya bahwa Allah tidak bisa berdusta dan mengingkari janjinya sendiri. Oleh karena itu dia bisa bertahan menunggu 25 tahun, bahkan memuliakan Tuhan, karena dia percaya pada sang pemberi janji.

 

Bil 23:19 : Allah bukanlah manusia,  sehingga Ia berdusta. bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal . Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?

 

Di Alkitab banyak sekali janji-janji yang diberikan pada Tuhan kepada orang percaya,  Tuhan sering berkata dalam alkitab : jangan takut, jangan kuatir. Namun sayangnya, karena kualitas ‘janji’ yang semakin lama semakin menurun di dunia ini, banyak janji palsu yang tidak ditepati, akhirnya banyak dari antara kita yang ‘menurunkan’ janji Allah sama seperti  janji manusia. Saya pernah bertemu orang yang mengutip ayat alkitab tentang berkat Allah dan menambahkan itu kalau Tuhan berkenan, kalau tidak yah kita tidak akan mendapatkan berkat Allah. Nah loh, sepertinya di Alkitab tidak ada tulisan tambahan itu deh.

 

Kisah Abraham ini membuat saya berpikir berapa banyak saya atau anak-anak Tuhan yang lain, kehilangan berkat yang sudah disediakan Tuhan, hanya karena kita tidak sabar menunggu dan iman kita bimbang dalam ketidak percayaan atas janji Tuhan ?

 

Saat ini saya tidak mau kehilangan berkat yang Tuhan sudah sediakan buat saya, saya mau percaya dan berharap, sekalipun saat ini saya masih belum mendapatkan pekerjaan yang saya inginkan tersebut. Saya juga berharap banyak wanita-wanita Allah yang karena tekun dan sabar menanti akhirnya mendapatkan berkat dari janji Allah dalam hidupnya.

 

Yuk sisters, jangan sampai kita kehilangan berkat yang akan menjadi milik kita, karena pengharapan kita hilang atau tidak sabar dalam proses penungguan. Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu (mzm 37 : 3-4)

 

Let’s keep our hope on high!

 

Silta.NS




Mengapa kita hanya mempercayai Tuhan ketika Ia membawa kita ke padang yang berumput hijau dan air yang tenang, mengapa kita tidak mempercayai Tuhan ketika Ia membawa kita ke padang liar yang tandus ?


Mengapa kita hanya mempercayai Tuhan ketika Ia mencukupi segala kebutuhan kita dan menyediakan hidangan bagi kita, mengapa kita tidak mempercayai Tuhan ketika kebutuhan kita tidak dipenuhi?


Mengapa kita hanya mempercayai Tuhan ketika Ia mengurapi kepala kita dengan minyak dan piala kita penuh melimpah, mengapa kita tidak mempercayai Tuhan ketika kita merasa kekeringan, kosong dan sendirian?


Kadang-kadang ketika hidup kita berada dalam kesulitan, kita berpikir bahwa Tuhan memimpin kita ke jalan yang salah. “Salah jalan Tuhan, tidakkah Kau melihatnya?” begitu teriak kita.


Kadang-kadang ketika semua masalah hidup datang bertubi-tubi pada kita, kita berpikir bahwa Tuhan sudah melupakan kita dan bahwa Dia tidak lagi mendengarkan doa kita.


Kadang-kadang kita merasa Tuhan tidak lagi peduli pada kita karena Ia membiarkan hal-hal buruk terjadi pada kita. Tuhan sepertinya tidak berbuat apa-apa saat masalah-masalah dunia menimpa kita sehingga kita sulit bernafas


“Dimanakah Engkau Tuhan?”, tangis kita….


“Percayalah padaku”, terdengar suara lembut dari dalam diri kita membalas pertanyaan-pertanyaan kita tentang hidup. Ketika kita berdiam diri dalam kepasrahan, suara itu akan terdengar lebih jelas, “Percayalah kepadaku”, kataNya.


Kemana pun Ia memimpinmu… ke lembah yang dalam, ke dalam kegelapan, bahkan ke dalam jurang sekalipun… percayailah Dia. Percayalah bahwa ketika Ia membawa kita ke tempat-tempat yang tidak kita sukai itu, tidak akan pernah Ia membiarkan kita tinggal disana selamanya. Percayalah bahwa tidak ada apapun yang tidak bisa Ia lakukan jika kita mempercayaiNya. Percayalah bahwa Ia mengasihi kita dan Ia memakai segala sesuatu dalam hidup untuk membawa kebaikan bagi kita. Percayalah bahwa pada akhirnya tanganNya akan selalu membawa kita ke dalam kemenangan.


Percayalah kepadaNya dan itu cukup….


Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” Yeremia 29:11