Hormati Ibu Mertuamu

Advertising






Advertising






"Wanita, ibu mertua adalah juga ibu kandung anda. Dia yang sudah melahirkan pria yang anda cintai, yang menjadi ayah anak-anak anda. Perlakukan mertua dengan baik, hormat dan penuh cinta, karena dengan begitu suami anda akan melakukan hal yang sama pada ibu anda" - Timotius Adi Tan

“Berbaik hatilah kepada ibu mertuamu sama seperti kamu ingin suamimu berbaik hati kepada ibumu” – unknown

Sediakan waktu khusus dimana anda bisa bercengkrama bersama ibu mertua. Melakukan kegiatan yang akan mempererat hubungan berdua. Banggakan suami anda dihadapannya. Katakan bahwa ia telah berhasil membesarkan anak lelakinya yang kini menjadi suami anda. Mertua akan menghargai dan senang dengan apa yang sudah anda lakukan.

(a journey of two becoming one - Timotius Adi Tan)

Aku seorang wanita yang mencintai seorang pria. Pria ini tiba dari negeri yang jauh bersama orangtua dan saudara laki-lakinya beberapa tahun yang lalu. Sayang sekali, beberapa waktu lalu ayahnya meninggal dunia, ibunya merasa sangat sedih ditinggal sendiri. Tak lama setelah itu, ia meminangku untuk menjadi istrinya. Aku senang sekali, karena pria itu sangat baik, bahkan ibunya pun sangat baik kepadaku. Mungkin karena perempuan itu sudah kehilangan suaminya dan berada di negeri asing, dia begitu baik kepadaku dan menganggapku seperti anaknya sendiri. Bukan cuma terhadapku, dia juga berbuat baik kepada menantunya yang lain, seorang wanita yang berasal dari kota ini, dan menikahi anaknya yang lain. Aku senang hidup bersama dengan pria yang kucintai dan keluarganya ini, meskipun tidak semua hari berjalan dengan baik. Aku dan suamiku berasal dari keluarga yang memiliki begitu banyak perbedaan dalam adat, tradisi atau kebiasaan keluarga, bahkan kami menyembah Tuhan yang berbeda, sehingga wajar jika kadangkala terjadi benturan. Aku belum pernah mendengar tentang Allah yang mereka sembah ini, tapi suamiku dan ibu mertuaku mengajarkan aku sedikit demi sedikit kepercayaan mereka. Sebagai pendatang dalam keluarga ini, aku belajar merendahkan diriku, mengikuti  dan menghormati adat istiadat keluarga suamiku, menyembah Allah yang mereka sembah.

 

Aku hidup dalam suasana damai di keluarga ini  selama 10 tahun, sebelum hari naas itu tiba. Suamiku meninggal dunia, Allahnya menjemput pulang suamiku ke rumahNya. Tanpa ada tanda-tanda apapun sebelumnya, suamiku pergi meningglkanku. Hatiku merasa terkejut,pilu, sedih, takut dan sangat kecewa. Aku pun tak sendirian mengalami hal ini, tak lama, saudara laki-laki suamiku juga meninggal. Orpa, istrinya begitu sedih, kami berdua bersama ibu mertua kami menangisi kepergian kedua laki-laki itu. Sesedih-sedihnya perasaanku kehilangan seorang suami, aku bisa merasakan kesedihan yang lebih dalam dirasakan oleh ibu mertuaku, dia kehilangan dua anaknya di negeri yang asing baginya, setelah kehilangan suaminya.  Aku masih memiliki keluarga disini, begitu pula Orpa, tapi ibu mertuaku tidak, dia tidak punya siapa-siapa disini. Oleh karena itu, aku tidak heran ketika dia berkata kepadaku, bahwa dia akan kembali pulang ke negeri asalnya. “Aku seorang diri disini”, katanya, “aku ingin kembali ke negeriku dan bertemu kembali dengan keluargaku disana”. Aku dan Orpa bisa merasakan penderitaan yang ia alami, walaupun ia cuma ibu mertua kami, tapi kami begitu mengasihinya seperti mengasihi ibu kami sendiri. Aku dan Orpa berkata kepadanya, kemanapun engkau pergi, kami akan mengikuti engkau. Dia hanya tersenyum dan berkata, “tidak anakku, kalian harus kembali pada keluarga kalian sendiri, aku ini ditimpa berbagai musibah, tidakkah kalian lihat, tangan Tuhan teracung kepadaku. Pulanglah kalian kembali ke keluarga kalian.”

 

Aku dan Orpa benar-benar tidak ingin meninggalkannya, kami ingin mengikutinya, tapi ia juga bersikeras agar kami pulang kembali ke keluarga kami masing-masing. Lama sekali kami berargumentasi soal ini, sampai akhirnya Orpa menyerah dan berkata bahwa ia setuju dan akan kembali lagi ke keluarganya sendiri.  Ibu mertuaku bertanya, apakah aku juga ingin kembali ke keluargaku, aku menjawab tidak mau. Aku tidak mau pergi meninggalkan dia, aku mau mengikuti mertuaku kemanapun ia pergi. Aku berkata kepadanya, “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam; bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan.” Setelah aku berkata seperti itu, Ibu mertuaku akhirnya membiarkan aku pergi mengikutinya kembali ke negerinya. *

 

Wanita itu bernama Rut dan ia pergi mengikuti ibu mertuanya kemana pun ia pergi. Rut begitu mencintai ibu mertuanya seperti mencintai ibunya sendiri. Ketika mereka kembali ke Bethlehem, tempat Naomi, ibu mertuanya berasal, Rut bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka berdua. Ia merawat dan menjaga ibu mertuanya yang sudah tua itu.

 

Kisah ini tertulis dalam kitab Rut, kitab yang begitu menakjubkan untuk dibaca. Kisah tentang seorang wanita yang meninggalkan negerinya, keluarganya, dan semua hal yang dia kenal demi Ibu mertuanya. Saya membandingkan hidup Rut dan hidup saya sendiri. Saya menikah dengan orang asing, dan sekarang saya hidup mengikuti dia di negerinya. Saya harus meninggalkan keluarga saya, teman-teman saya, karir saya yang bagus dan memulai kehidupan saya dari awal lagi. Tahun pertama adalah tahun yang paling sulit, karena saya harus beradaptasi dengan iklim, makanan, bahasa dan orang-orang disini, sungguh bukan hal yang mudah, terutama ketika saya mengingat kenangan-kenangan indah bersama keluarga dan teman-teman saya di Indonesia. Mengikuti suami sendiri saja saya merasakan banyak kesulitan, saya tidak bisa membayangkan apa yang dirasakan Rut, hidup di negeri asing, demi mertuanya, pasti Rut mengalami banyak kesulitan.

 

Kisah Rut sangat sulit dibayangkan bisa terjadi di kehidupan modern sekarang ini, dimana kita mendengar banyak kisah-kisah yang menyedihkan mengenai hubungan menantu dan mertuanya. Banyak sitkom di TV yang menggambarkan kisah-kisah seperti ini, kelihatannya lucu, banyak orang yang tertawa menonton komedi ibu mertua yang galak dan menantu yang tak kalah ganas. Tapi di kehidupan nyata hal seperti ini tidak lucu sama sekali, karena seringnya pertengkaran kita dengan ibu mertua, membuat keluarga kita sendiri runyam dan membuat suami kita kebingungan karena merasa berada di tengah-tengah.

 

Seorang teman saya menceritakan tentang kehidupannya dan suaminya yang berada dalam ‘perang dingin’ dengan ayah dan ibu suaminya. Seorang teman saya yang lain, dengan enteng berkata bahwa dia tidak perduli dengan kehidupan ibu mertuanya, jarang dia mau bertemu dengan ibu atau keluarga dari suaminya. Walaupun saya juga mendengar banyak kisah-kisah harmonis hubungan menantu dan mertua dari teman-teman saya lain yang sudah menikah, jumlahnya sangat sedikit jika dibandingkan dengan kisah ketidakharmonisan hubungan mertua dan menantu ini.

 

Kisah Rut mengajarkan kepada kita tentang apa yang harus dilakukan terhadap ibu mertua kita. Tidak perlu sampai kita harus mengikuti ibu mertua kita kemanapun ia pergi, tapi ikutilah teladan Rut dalam menghormati dan mengasihi ibu mertuanya. Rut, lahir di bangsa moab, yang tentunya mempunyai tradisi dan kebiasaan yang jauh berbeda dengan ibu mertuanya yang berasal dari Israel. Tapi Rut bisa hidup harmonis dengan ibu mertuanya. Tidak diceritakan secara detil di dalam alkitab tentang bagaimana mereka hidup sehari-hari, tapi kita bisa membayangkan, di antara kedua kebiasaan dan tradisi yang begitu berbeda ini, dibutuhkan toleransi yang luar biasa di antara Rut dan ibu mertuanya sehingga mereka bisa hidup harmonis bersama. Keduanya tentu bisa saling menghormati dan menghargai, menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing, sampai-sampai keduanya tidak bisa dipisahkan.

 

Beruntunglah wanita yang mempunyai ibu mertua yang baik dan bijak, karena tentunya lebih mudah bagi mereka untuk bertoleransi dan berhubungan dengan ibu mertua seperti ini. Tapi beruntunglah juga wanita-wanita yang mungkin mempunyai ibu mertua yang “unik”, karena wanita-wanita ini mempunyai kesempatan lebih banyak untuk menunjukkan kasih Allah dalam kehidupan mereka sehari-hari.

 

Beruntunglah wanita-wanita yang menghormati ibu mertua mereka. Lihatlah Ruth, lahir dari bangsa moab, melahirkan seorang putra bernama Obed dari suaminya, Boas dan mempunyai cucut buyut yang luar biasa. Dan nama Rut tercantum dalam silsilah Yesus Kristus. Yesus Kristus merupakan keturunan dari Rut (Matius 1:5). Ketika kamu mengikuti Tuhan, mengasihi sesamamu manusia, termasuk ibu mertuamu, berkat-berkat Tuhan akan mengalir kedalam kehidupan keluargamu. Merupakan kebanggaan seorang wanita, seorang ibu, untuk memiliki keturunan-keturunan yang luar biasa. Dan Ruth memperoleh kehormatan itu dan dikenang sepanjang masa.

 

Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri  (Matius 22:39)

 

Kasihilah Ibu mertuamu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri…..

 

Silta NS

*Kisah interpretasi dari Kitab Rut pasal 1