Jangan Takut atau Kuatir

Advertising






Advertising






"Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan." (Yesaya 41:10)

"Hanya dibutuhkan satu pikiran positif yang diberikan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang untuk dapat mengalahkan pasukan pikiran negatif" - Robert Schuller

"Siapa saja bisa berhasil di laut yang tenang, tetapi kemenangan atas badailah yang mendapatkan kehormatan yang sesungguhnya." - Schuller

 “Janganlah khawatir mengenai apa pun. Dalam segala hal, berdoalah dan ajukanlah permintaanmu kepada Allah. Apa yang kalian perlukan, beritahukanlah itu selalu kepada Allah dengan mengucap terima kasih. Maka sejahtera dari Allah yang tidak mungkin dapat dimengerti manusia, akan menjaga hati dan pikiranmu yang sudah bersatu dengan Kristus Yesus”. Filipi 4 : 6 – 7 (Alkitab Terjemahan Bahasa Indonesia sehari-hari)

Suatu ketika Dr. Martin Luther, pemimpin besar gereja masa lampau, merasakan kekuatiran yang amat sangat. Suatu pagi ia melihat istrinya memakai pakaian hitam-hitam layaknya orang yang sedang berkabung. “Siapa yang meninggal?” Tanya Dr. Luther. “Kamu belum tahu? Allah telah meninggal” jawab istrinya. “Bagaimana kamu bisa berkata seperti itu? Allah tidak mungkin mati. Ia hidup dalam kekekalan. Sungguh jahat dan bodoh kamu bisa berkata seperti itu”, kata Dr. Luther dengan kesal. Lalu istrinya menjawabnya, “Lalu mengapa akhir-akhir ini kamu begitu dihantui kekuatiran sehingga lupa kalau itu Allah itu tetap hidup?” *1)

 

Berapa banyak orang Kristen yang melakukan seperti itu, begitu kuatir seolah-olah Allah itu meninggal dan tidak lagi hidup dan menjaga mereka. Banyak orang Kristen yang begitu kuatir sehingga lupa kalau Allah itu adalah Allah yang hebat dan perkasa dan dapat melakukan hal-hal yang mustahil dilakukan manusia. Banyak orang Kristen yang karena begitu kuatir lupa bahwa Allah mengasihi mereka dan Ia adalah Gembala yang Baik yang akan mencukupi kebutuhan mereka.

 

Allah mengasihimu, Allah mengerti dan mengetahui semua yang terjadi dalam hidupmu. Meskipun hidupmu sekarang gonjang ganjing karena masalah, meskipun kekecewaan atau hal-hal yang menyedihkan terjadi dalam hidupmu, tidak berarti Allah melupakanmu. Tetaplah kuat dalam imanmu, berhenti kuatir dan percayalah kepada Tuhan, Allah yang mengasihimu itu adalah Allah yang mampu mengubah air menjadi anggur. Suatu saat nanti kamu akan melihat tangan Tuhan bekerja dan mengubah ‘kain kabungmu’ menjadi ‘kain pesta’.

 

Kesaksian berikut saya kutip dari buku Kenneth Hagin *2), kesaksian ini begitu memberkati saya dan mengajar saya untuk berhenti kuatir dan belajar beriman. Semoga menjadi berkat.

 

Waktu saya berada di St. Louis dalam pertemuan businessman, mengajar tentang iman di suatu sore. Seorang wanita menghentikan saya di lobi hotel, tempat pertemuan, dan meminta waktu untuk berbicara kepada saya.

 

Dia mulai menangis dan berkata,”saya seorang janda. Saya mempunyai anak berumur 15,5 tahun. Oh Pak Hagin, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan padanya. Dia tidak mau pergi ke gereja. Dia bergabung dengan geng dan kadang-kadang dia belum pulang ke rumah sampai jam 3 atau 4 pagi Saya khawatir dia terlibat dengan narkoba. Setiap malam saya berbaring menunggu telepon berbunyi dan seseorang mengatakan kepada saya bahwa ia ditahan. Saya ingin kamu berjanji kepada saya bahwa kamu akan mendoakan dia setiap harinya.”

 

Saya berkata, “saya tidak akan melakukannya.” Dia melihat kearahku, kaget, dan berkata, “kamu tidak mau?”

 

Saya menjelaskan, “kamu lihat, hal itu tidak akan membawa kebaikan. Kamu akan membatalkan semua doa-doa saya. Kamu akan tetap mengatakan kepadanya bahwa dia tidak akan menghasilkan apa-apa – dia tidak akan pernah berhasil – dia akan berakhir di sekolah untuk anak-anak nakal atau penjara.

 

Dia berkata, “Bagaimana kau tahu bahwa aku selalu mengatakan hal itu kepadanya?”

Saya berkata, “ketika dia masih kecil, kamu harus melatihnya. Sekarang, masa itu sudah berlalu, kamu harus membiarkan dia sendirian. Biarkan dia sendiri.”

 

Dia berkata, “ketika dia masih kecil, saya bahkan belum diselamatkan. Saya tidak pergi ke gereja.”

 

Saya berkata, “Jangan paksa dia pergi ke gereja. Dia pasti akan menolaknya. Dia sudah pergi terlalu jauh sekarang, sebaiknya kamu membiarkan dia sendiri sekarang. Berhenti memaksa dia. Jangan katakan kepada dia satu kalipun bahwa, ‘kamu akan masuk ke sekolah anak nakal’, atau, ‘kamu tidak akan berhasil,’ atau, ‘kamu adalah anak nakal dan pada saat malam, ketika dia pergi dan kamu tidak tahu dimana dia berada, berhenti berbaring disana dan kuatir, ‘saya akan menunggu sampai telepon berbunyi. Saya tahu bahwa dia akan berada didalam masalah.’

 

“Tidak,” saya berkata, “jangan katakan apapun padanya. Tetapi katakanlah hal ini dengan keras, ‘Tuhan, saya melindungi dia dengan iman,’ kamu lihat, selama ini kamu mengelilingi dia dengan ketidak percayaan. Katakan, ‘Tuhan, saya melindunginya dengan iman. Saya tidak percaya….’ Pikiranmu mungkin tidak setuju; pikiranmu berkata bahwa kamu berbohong, tapi katakan,’saya tidak mau dia masuk ke sekolah anak nakal. Saya tidak setuju kalau dia akan berakhir di penjara. Saya tidak setuju bahwa dia nakal. Saya percaya dia akan diselamtkan. Saya percaya bahwa dia akan berubah menjadi lebih baik.’

 

Saya berkata kepada wanita ini, “Pertama kali kamu tidak akan mempercayainya. Pikiranmu tidak akan melepaskanmu. Tetapi mulailah memprogram dirimu secara positif. Tetaplah berkata hal yang baik tentang anakmu. Jika kamu bertahan dan mengatakan hal-hal yang baik, maka nanti kamu akan mulai mempercayainya.” Lalu saya berjalan dan meninggalkannya.

 

Lima belas bulan kemudian saya kembali ke St. Louis untuk acara konvensi FGBMFI. Ketika saya selesai mengajar sesi pertama, seorang wanita datang menghampiri saya di panggung.

 

“Bapak Hagin, apakah engkau mengenali saya?”

 

Saya berkata, “Tidak, saya tidak mengenal anda,” Saya biasanya mengenal wajah, tapi dia tidak kelihatan familiar sama sekali.

 

Dia berkata, “Ingat, kira-kira setahun lalu saya datang kepadamu di hotel dan memintamu untuk mendoakan anak lelaki saya?”

 

Saya berkata,”Ya, saya ingat sekarang.”

 

Dia berkata, “waktu itu saya marah kepadamu. Saya harus bertobat. Tuhan ampuni saya. Tetapi, akhirnya saya melakukan apa yang Bapak katakan kepada saya. Ooh, saya ingin kamu tahu bahwa itu tidak mudah sama sekali.” Dia berkata, “saya harus berusaha. Saya harus mengalahkan diri saya sendiri – kecenderungan alami saya, cara berpikir saya, daging saya. Saya tidak berkata apa-apa kepada anak saya tentang pergi ke gereja. Saya tidak menganggunya. Dan saat saya punya waktu sendiri, saya biasanya berbaring di tempat tidur khawatir dan berkata, “telepon itu akan berbunyi sebentar lagi. Dia sedang berada bersama angggota gengnya. Dia terlibat narkotika. Dia akan pergi ke penjara anak nakal.” Tidak, saya menahan lidah saya. Lalu saya berkata kepada diri saya sendiri,’jangan mengatakan hal itu. Berhenti melakukannya.’ Lalu saya merasa lebih positif dan berkata, ‘tidak tidak, saya percaya bahwa dia akan ke sekolah anak nakal. Saya tidak percaya bahwa dia akan dipenjara. Saya percaya bahwa dia akan diselamatkan.’ Saya mengatakan hal tersebut seberani yang saya bisa. Sesuatu di pikiran saya mengatakan, ‘kamu mahkluk yang malang. Mengaku sebagai orang Kristen, dan sekarang kamu berbohong. Kamu tidak mempercayai hal itu. Tidakkah kau lihat geng dengan siapa dia berteman? Kamu tahu dimana dia akan berakhir.’

 

“Saya bertarung dalam hal itu. Akhirnya setelah beberapa bulan saya dapat benar-benar mengatakannya dan mempercayainya tanpa ada lagi keraguan. Suatu hari minggu dia pulang jam 4 pagi. Saya bangun pagi dan mempersiapkan sedikit makanan sebelum pergi ke sekolah minggu dan gereja, dan dia ikut bangun juga. Dia berkata, ‘Ma, saya ingin sarapan bersamamu.’ Dan pada saat kami sarapan bersama, dia berkata, ‘saya ingin pergi bersamamu ke gereja pagi ini.’ ‘Anakku, kamu baru sampai rumah jam 4 pagi’, kata saya. ‘Sebaiknya kamu tidak usah pergi dan beristirahat saja. ‘ Dia berkata, ‘Tidak, saya mau pergi’ Saya berkata, ‘Apakah kamu yakin?’ Dia berkata, ‘Iya saya ingin pergi.’ Akhirnya kami pergi bersama.”

 

Minggu berikutnya dia kembali kerumah pada jam 4 pagi lagi. Tapi dia bangun dan makan bersama di pagi hari. Dia berkata, “Saya mau ke sekolah minggu dan gereja pagi ini bersamamu Ma.” Ibunya berkata, “anakku, kamu pulang pagi. Sebaiknya kamu tidak pergi.” Dia berkata, “Tidak, saya mau pergi.” Maka mereka pergi bersama.

 

Dan pada minggu malam kedua, dia berkata, “Saya ingin pergi denganmu malam ini.” Dia begitu sibuk berlari dan bermain sepanjang sore. Dia berkata, “Anakku, kamu kan besok sekolah. Sebaiknya kamu dirumah dan tidur.” Tidak”, dia berkata, “Saya ingin pergi.”

 

Dia pergi. Dan pada saat Altar call dilakukan, tanpa ibunya berkata apapun kepadanya, dia maju kedepan, diselamatkan dan dipenuhi oleh Roh Kudus.

Dia berkata kepada saya, “Dulu dia 100 persen untuk setan. Sekarang dia 100 persen untuk Tuhan. Dia begitu berapi-api untuk Tuhan. Saya ingin mengucapkan terimakasih, bapak Hagin, karena sudah membawa saya ke jalur yang benar. Saya mempunyai anak yang baru sekarang.”

 

Saya berkata, “Puji Tuhan !”

 

Dia menyalami tangan saya, berbalik dan berjalan dua tiga langkah. Kemudian dia berbalik dan kembali. Dia berkata, “Saya ingin menyampaikan kepadamu hal lainnya.”

Saya berkata, “Apa?”

 

Dia berkata, “Anak saya punya mama yang baru! Saya tidak pernah khawatir lagi. Saya tidak kuatir mengenai hal apapun. Kadang-kadang saya sering mencubit diri saya sendiri dan berkata, ‘apakah ini benar kamu?’ Saya biasanya sering berbicara negatif. Saya dulunya selalu khawatir dan berbicara keraguan dan ketidak percayaan. Saya selalu membuat gambaran negatif. Tetapi sekarang, saya bahagia selalu tiap waktu. Puji Tuhan! Saya tidak pernah kuatir!”

 

Saya berkata, “saya ingin mengatakan satu hal lagi saudariku, kamu kelihatan lebih muda sehingga saya tidak mengenalimu.”

 

*1) Sumber : http://www.telaga.org/berita_telaga/jangan_kuatir

*2) Sumber : When Faith seem weak and Victory lost – Kenneth E Hagin

 



Tuhan berkata kepadamu seperti ini :



Dia yang memberi kepadamu hari juga akan memberimu segala hal yang diperlukan pada hari itu.


Siapa yang membuat matahari bersinar?


Siapa yang membuat kegelapan malam menghilang?


Siapa yang memperlihatkanmu sinar di malam hari?


Siaya yang memutar langit sehingga sumber cahaya bisa berada di atas bumi?


Apakah Dia yang memberimu begitu banyak hal-hal besar membutuhkan pertolonganmu untuk mencukupi kebutuhan tubuhmu?



Gregorius Nysa