“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” – Yohanes 3:16

Tidak ada sesuatu yang bisa kita lakukan untuk membuat Tuhan lebih mengasihi kita; tidak ada sesuatu pun yang bisa kita buat supaya KasihNya pada kita berkurang” – Dillon Burroughs

“Bahkan raja-raja dan penguasa yang berlimpah dengan kekayaan dan kekuasaan yang besar tidak sebanding dengan satu semut yang dipenuhi oleh kasih Tuhan” – Guru Nanak

Kehausan di atas Salib

 

 

Tindakan akhir Yesus dibumi dimaksudkan untuk memenangkan kepercayaan kita.

Ini adalah tindakan terakhir dalam hidup Yesus. Dalam mengakhiri hidupnya sebagai manusia bumi, kita mendengar suara dari pria yang kehausan.

Dan melalui kehausannya – melalui spons dan tabung anggur yang murah – Dia meninggalkan permohonan terakhir.

“Kamu bisa mempercayai Aku.”

Yesus. Bibir yang pecah dan mulut yang begitu kering. Tenggorokannya begitu kering sehingga dia tidak bisa menelan, suaranya begitu parau, sulit untuk berbicara. Dia sangat haus. Untuk melihat kapan terakhir kali kelembaban menyentuh bibir itu, kamu harus mengingat kembali belasan jam lalu saat makan di ruangan atas. Saat itu lah terakhir Yesus minum anggur, tak lama Yesus dipukul, diludahi, dilukai, dan memar. Dia telah menjadi pemikul salib dan penanggung dosa, dan tidak ada cairan yang masuk ke tenggorokannya. Dia begitu haus.

Kenapa dia tidak melakukan apa-apa saat itu? Bukankah Ia bisa? Bukankah Ia pernah mengubah tempayan air menjadi tempayan anggur? Bukankah dia pernah membelah sungai Yordan dan membelah dua laut merah? Bukankah Ia, hanya dengan satu kata, menghentikan hujan dan menenangkan badai? Bukankah alkitab berkata bahwa Dia “mengubah padang gurun menjadi kolam” (Mazmur 107 : 35) dan “batu yang keras menjadi mata air” (Mazmur 114:8)?

Bukankah Tuhan pernah berkata, “Aku akan mencurahkan air kepada dia yang haus” (Yesaya 44 : 3)?

Jika benar, kenapa Yesus harus kehausan seperti itu?

Ketika kita menanyakan pertanyaan pertanyaan ini, tambahkanlah hal-hal berikut. Kenapa Dia merasa lelah di Samaria (Yohanes 4 : 6), terganggu di Nazaret (Markus 6 : 6), dan marah di tempat sembahyang (Yohanes 2 : 15)? Kenapa Dia tertidur di kapal saat berada di laut Galilea (Markus 4 : 38), bersedih di kuburan Lazarus (Yohanes 11 : 35), dan kelaparan di padang gurun (Matius 4 : 2)?

Kenapa? Dan mengapa dia kehausan di atas kayu salib?

Dia tidak perlu menderita kehausan. Setidaknya tidak sampai pada situasi yang dia alami. Enam jam sebelumnya dia ditawari minuman, tapi dia menolaknya.

Mereka membawa Yesus ke tempat yang dinamakan Golgota (yang berarti tempat tengkorak). Dan mereka menawarinya minum anggur dicampur dengan mur, tapi dia tidak mau meminumnya. Dan mereka menyalibkan dia. Membagi bagi pakaiannya, mengundi siapa yang mendapatkannya. (Markus 15 : 22 – 24).

Sebelum paku ditancapkan, minuman diberikan. Markus berkata bahwa anggur itu dicampur dengan mur. Matius menceritakan bahwa anggurnya dicampur dengan empedu. Baik mur ataupun empedu mengandung obat penenang yang menghilangkan rasa sakit di tubuh. Tapi Yesus menolaknya. Dia menolak ditenangkan oleh obat-obatan, dan memilih untuk merasakan secara penuh penderitaannya.

Kenapa? Kenapa Dia harus menanggung semua perasaan itu? Karena Dia tahu bahwa kamu harus menanggung semuanya itu juga.

Dia tahu bahwa kamu juga lelah, terganggu dan marah. Dia tahu bahwa kamu juga mengantuk, dilanda kesedihan dan lapar. Dia tahu bahwa kamu menghadapi penderitaan. Jika bukan penderitaan di tubuh, penderitaan jiwa… luka yang terlalu dalam untuk beri diobat. Dia tahu bahwa kamu menghadapi kehausan. Jika bukan haus karena air, setidaknya haus akan kebenaran, dan kebenaran yang kita pungut dari gambar Yesus yang haus adalah – Dia mengerti.

Dan karena Dia mengerti, kita bisa datang padaNya.

Oleh : Max Lucado

Diterjemahkan dari : http://www.thoughts-about-god.com/easter/max_thirsty_on_cross.html