Kesalahan Pasangan dalam Mengelola Keuangan

“Bercakap-cakaplah dalam kondisi yang saling membangun – bukan saling menyalahkan. Dan komunikasikanlah gol keuangan jangka panjang anda untuk menemukan jalan tengah” – Gail Vaz Oxlade

“Katakan kepada pasanganmu apa yang kamu pikirkan. Jangan harapkan pasanganmu tahu apa yang kamu pikirkan. Kita tidak bisa membaca pikiran” – Gail Vaz Oxlade


"Jikalau kamu bertengkar mengenai uang, mintalah waktu jeda. Katakan, ‘ini tidak berhasil buat kita, masalah ini membuat emosi kita meledak. Kita harus menghentikan pembahasan ini sekarang dan nanti kita buat jadwal ulang untuk membahas masalah ini kembali’ jadi kamu tidak lari dari masalah itu” – Gail Vaz Oxlade

"Dibutuhkan dua orang yang saling setuju tentang permainannya jika kamu ingin supaya kedua orang itu berkomitmen terhadap permaianannya” – Gail Vaz Oxlade

Kesalahan Pasangan Mengelola Uang

 

Banyak kesalahan yang sering dilakukan oleh pasangan dalam pengelolaan keuangan mereka.

 

  1. Menyimpan rahasia. Saya kaget ketika tahu bahwa banyak orang menyembunyikan sesuatu dari pasangannya. Mereka pergi belanja, pulang ke rumah dengan hasil belanjaannya, membuang tag harga belanjaannya – karena biasanya pasangan tidak ‘ngeh’ dan tidak mengenali pakaian baru ketika mereka melihatnya. Seorang wanita menyimpan pakaian barunya pertama-tama di keranjang cucian. Wanita lain menyimpan belanjaan di mobilnya sampai dia bisa menyusupkannya masuk ke dalam rumah. Banyak orang berbohong tentang berapa harga yang dia bayar untuk belanjaannya karena tidak mau pasangan mempermasalahkannya. Dan banyak orang yang ketika menikah baru tahu kalau pasangannya punya keuangan yang buruk.

 

Jika kamu tidak bisa terbuka dengan pasanganmu tentang apa yang kamu beli, itu adalah masalah. Jika kamu menikah, tapi kamu tidak bisa membicarakan keuanganmu dengan suamimu, berarti kamu bodoh, sederhana saja.
 

Komunikasi adalah hal utama yang kamu lakukan untuk menjaga keutuhan hubungan, dan jika kamu tidak mempunyai hubungan-keuangan dengan pasanganmu, jika kamu tidak bisa memberitahukan hal yang benar pada pasanganmu, maka seharusnya kamu tidak usah menikah.

 

2.   Tidak mempunyai anggaran (budget). Menurut saya setiap pasangan harus memiliki anggaran atau budget. Karena kamu menggabungkan dua kehidupan, dua cara pandang dalam melihat segala sesuatu, dua kepribadian menjadi satu, kamu berdua harus mempunyai rencana yang sama mengenai penggunaan uang.

    Jikalau pasangan sama-sama menyetujui anggaran yang dibuat, sangatlah mudah untuk memutuskan apa yang mau dibeli dan kapan. Kamu bisa bertanya satu dengan yang lain, “apakah ada anggaran untuk membeli ini atau itu?” Jika tidak, maka masing-masing pasangan bisa memotong sedikit biaya pengeluaran pribadi (misalnya uang untuk golf atau makan-makan diluar) sehingga akhirnya pasangan mendapat sedikit kelebihan dan bisa melakukan pembelian. Bekerja sama dengan sebuah rencana jauh lebih baik daripada “terbang sendirian” dan akhirnya saling menabrak satu dengan yang lain.

     

    Anggaran akan menolong suatu hubungan jika kamu adalah tipe boros dan pasangan kamu tipe hemat. Karena dengan membuat rencana, masing-masing bisa menganggarkan pembelian untuk kebutuhan mereka. Anggaran sangat penting mencegah pasangan masuk jurang kebangkrutan jika kedua pasangan adalah pemboros. Apabila kamu tahu keadaan keuangan mu, kamu bisa menggunakan uangmu, tanpa dihantui hutang.  

     

    3.   Hanya salah satu dari pasangan yang mengontrol. Biasanya hanya salah satu pasangan yang pusing dengan keuangan sehari-hari, satu orang harus memikirkan untuk membayar tagihan, membayar asuransi, memikirkan investasi masa tua, menghitung berapa biaya pendidikan anak, membayar pajak, dan seterusnya. Ini biasanya terjadi karena hanya satu dari pasangan yang merasa lebih bertanggung jawab akan tugas-tugas ini. Masalahnya adalah jika pasangan yang lain diabaikan dan tidak diikutsertakan dalam tanggung jawab tersebut, ia bisa merusak keuangan tanpa pengawasan atau pasangannya marah karena selalu dia yang mengerjakan hal-hal itu. Sangatlah penting agar masing-masing tidak hanya mengambil keputusan keuangan bersama tapi juga mengerti pengeluaran harian.

      Bergantianlah mengatur pengeluaran harian dan saling berkomunikasi secara teratur tentang apa yang terjadi di keuangan rumah tangga, sehingga kamu berdua tahu benar keuangan kalian dan bekerja sama untuk tujuan bersama.

       

      4.    Menganggap enteng hutang. Tidak peduli siapa yang berhutang, keluarga lah yang akan menanggungnya. Jikalau kamu tidak bisa melunasi hutangmu sebelum menikah, setidaknya kamu harus mempunyai rencana bagaimana kamu akan melunasinya.

        Jangan pernah menandatangani surat hutang pasanganmu, karena itu berarti kamu harus bertanggung jawab atas hutang itu sampai kamu mati. Jika pasanganmu membutuhkan pertolongan untuk membayar hutang, kamu dapat membantunya tanpa perlu menaruh namamu di atas kertas.

         

        Jangan membiarkan kepalamu pusing karena hutang biaya pernikahan yang mahal, bulan madu, rumah baru ataupun furnitur baru yang bagus. Membiarkan diri jatuh kedalam hutang hanya untuk memuaskan dirimu sendiri akan membawamu jatuh dalam jurang keuangan.

         

        5.    Mempermasalahkan hal-hal kecil. Jika kamu ingin membahas satu persatu semua hal dalam hubunganmu, kamu akan sangat menderita dalam waktu yang lama, atau kamu akan bercerai. Kamu harus memilih “perang”mana yang layak di menangkan dan mana yang bisa dinegosiasikan.

          Jika hal kecil menambah besar suatu masalah, itu biasanya karena kamu tidak punya anggaran atau tidak punya prioritas yang sama dengan pasangan. Umumnya pasangan memakai uang sejumlah seratus ribu disini, seratus lima puluh ribu disana, tiga ratus ribu ditempat lain dan ketika semuanya djumlahkan angkanya menjadi fantastis. Jikalau kamu punya catatan semua pengeluaranmu, sangatlah mudah memutuskan mana yang tidak bisa dilakukan atau dibelanjakan lagi.

           

          Salah satu cara pasangan dapat mengatasi masalah “uangku sendiri” adalah dengan memberikan sejumlah “uang saku” untuk masing-masing, yang dapat digunakan untuk keinginan masing-masing pasangan. Karena “uang saku” tersebut masuk dalam anggaran pengeluaran, yang membebaskan masing-masing menggunakan uangnya tersebut, maka uang saku tersebut tidak akan menganggu keuangan.

           

          Jika kamu mempunyai “uang saku” seperti itu, masing-masing dapat menggunakan uang jatahnya masing-masing tanpa perlu pertanyaan atau pembatasan apapun. Pembelian apapun di luar “uang saku” harus dibicarakan satu dengan yang lain.

           

          6.    Tidak menyiapkan dana darurat. Tidak ada satu orang pun yang senang berpikir akan hal buruk yang mungkin bisa terjadi pada mereka, tapi kenyataannya beberapa hal buruk bisa menimpa orang-orang yang baik. Jikalau kamu tidak punya uang tunai yang bisa kamu gunakan untuk apapun ketika hidup sedang buruk, kamu tidak punya kesiapan menghadapi masa darurat. Kadang pasangan sering percaya diri dengan kemampuan finansial pasangannya, padahal ketika pasangannya kehilangan pekerjaan, sakit atau menderita karena hal lain, dia kelabakan. Dibutuhkan perencanaan yang baik, dan bagian perencanaan itu adalah cukup uang untuk dana darurat. Setiap pasangan setidaknya harus mempunyai uang tunai yang cukup untuk 6 bulan pengeluaran hidup keluarga, sehingga kalau ada hal buruk terjadi, mereka lebih siap.

           

          Komunikasi dan negosiasi adalah kunci terbaik penyelesaian masalah keuangan dengan pasangan, selain itu tentunya dibutuhkan sedikit keahlian untuk mengatur keuangan.


          Gail Vaz Oxlade

           

          Money Mistake Couple Make - Gail Vaz Oxlade www.gailvazoxlade.com