Life

Advertising






Advertising






“Ketika kamu lahir, semua orang di sekelilingmu tersenyum sedangkan kamu menangis. Hiduplah dalam hidupmu sehingga saat kamu mati, kamu tersenyum dan semua orang sekelilingmu menangis” – Unknown

“Saya belajar bahwa kita lah yang bertanggung jawab atas semua hal yang kita lakukan, tidak peduli bagaimana perasaan kita” – Pastor John Bright


“Segala penderitaan yang pernah saya alami di hidup saya, semua masalah dan tantangan saya telah membuat saya kuat.. Kamu mungkin tidak menyadarinya saat semuanya terjadi, tapi kesakitan bisa menjadi hal terbaik di dunia untukmu” – Walt Disney

“Kebahagiaan tidaklah ditemukan di ujung jalan, tapi itu dialami sepanjang perjalanan. Jadi jangan pernah menyia-nyiakan setiap momen dari hidupmu dan kamu akan menemukan alasan untuk berbahagia setiap harinya. Janganlah kuatir terlalu banyak tentang hari esok sehingga kamu lupa untuk hidup hari ini” – Unknown

“Hidupmu seperti sebuah taman,

Pikiranmu adalah benihnya.

Kamu bisa menanam bunga atau

menanam ilalang di taman tersebut”

 

-Unknown-

 

Saya mempunyai dua orang teman baru disini, keduanya sama-sama sudah berkeluarga, mempunyai anak. Yang satu pekerja dan yang satu hanya ibu rumah tangga.  Tapi yang membedakan keduanya adalah cara mereka menjalani hidup. Teman saya yang pekerja adalah seorang pemikir dan memandang hidupnya dengan  pertanyaan ‘mengapa’. Ketika ada masalah, dia selalu berusaha mencari tahu ‘mengapa’ masalah itu terjadi di hidupnya, mengingat-ingat masa lalunya dan membiarkan pikiran dan perasaannya berlarut-larut dalam masalahnya. Setiap detil dari masalahnya selalu dipikirkannya dan diceritakannya kepada teman-temannya, termasuk saya. Akibatnya setiap saat dia kelihatan begitu stress, bermuram durja dan kuyu.

 

Teman saya yang lain adalah seorang yang periang. Dia memandang hidupnya dengan pertanyaan ‘apa yang bisa saya lakukan’. Ketika dia mengalami masalah dalam hidupnya, dia biasanya selalu berusaha mencari jalan keluar dari masalahnya. Buat dia semua masalah pasti ada jalan keluarnya, ‘Tuhan selalu bisa buat jalan keluar’ katanya. Pernah suatu ketika saya melihat wajahnya murung dan matanya bengkak seperti habis menangis, tapi tidak ada satu kalimat negatif pun yang saya dengar keluar dari mulutnya tentang masalah yang dihadapinya. Ketika saya bertemu dengannya keesokan hari, wajah teman saya itu terlihat kembali ceria.

 

Kedua teman saya itu sama-sama wanita, sama-sama punya keluarga dengan segudang masalah, tapi mereka berdua begitu berbeda dalam cara memandang hidup mereka. Yang satu memandang segala sesuatu dalam hidupnya dari sisi negatif, sedangkan yang satu melihat dari sisi positif. Apakah masalah teman saya yang satu lebih berat dibandingkan dengan masalah yang dialami teman saya yang lain ? Tidak sama sekali. Malahan menurut pendapat saya, masalah yang dialami teman saya yang positif thinking itu jauh lebih berat dihadapi daripada masalah teman saya yang negatif itu. Tapi teman saya yang positif itu begitu bersemangat menjalani hidupnya, sehingga beberapa orang yang melihatnya, iri dan sering berpikir bahwa teman saya itu begitu beruntung dan tidak punya masalah dalam hidupnya. Walaupun sebenarnya, teman saya ini mengalami banyak masalah.

 

Pernahkah kamu mendengar kalimat berikut “Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain terbuka; tapi seringnya kita menatap terlalu lama ke pintu yang tertutup itu sehingga kita tidak melihat ada pintu lain yang dibukakan untuk kita” ? Kalimat ini pernah keluar dari mulut Hellen Keller, yang akhirnya sekarang menjadi kalimat terkenal, yang sering dikutip orang. Tapi tak banyak yang tahu kisah hidup Hellen Keller. Ia lahir normal di Tuscumbia, Alabama tahun 1880, tapi di usia 19 bulan, ia diserang penyakit yang menyebabkannya buta dan tuli. Hellen menjadi liar dan tidak dapat diajar, sampai akhirnya pada usia 7 tahun, Anne Sullivan dipercayai menjadi guru pribadi dan mentor Hellen. Annie memegang tangan Helen di bawah air dan dengan bahasa isyarat, ia mengucapkan "A-I-R" pada tangan yang lain. Saat Helen memegang tanah, Annie mengucapkan "T-A-N-A-H" dan ini dilakukan sebanyak 30 kata per hari. Helen diajar membaca lewat huruf Braille sampai mengerti apa maksudnya. Dengan tekun, Annie mengajar Helen untuk berbicara lewat gerakan mulut, sehingga Helen berkata, "Hal terbaik dan terindah yang tidak dilihat atau disentuh oleh dunia adalah hal yang dirasakan di dalam hati." Helen belajar bahasa Perancis, Jerman, Yunani dan Latin lewat huruf Braille. Pada usia 20 tahun, Helen kuliah di Radcliffe College, cabang Universitas Harvard khusus wanita dan lulus dalam waktu 4 tahun dengan predikat magna cum.  Ia menjadi pemenang dari Honorary University Degrees Women's Hall of Fame, The Presidential Medal of Freedom, The Lions Humanitarian Award, bahkan kisah hidupnya meraih 2 piala Oscar. Ia menulis artikel serta buku-buku terkenal, diantaranya The World I Live In dan The Story of My Life (diketik dengan huruf biasa dan huruf Braille), yang menjadi literatur klasik di Amerika dan diterjemahkan ke dalam 50 bahasa. Ia berkeliling ke 39 negara untuk berbicara dengan para presiden, mengumpulkan dana untuk orang-orang buta dan tuli. Ia mendirikan American Foundation for the Blind dan American Foundation for the Overseas Blind. *

 

Kisah hidup yang luar biasa, Hellen Keller yang buta dan tuli, bisa bercakap-cakap dalam banyak bahasa dan berprestasi luar biasa. Dia juga bisa berenang, bahkan mengendarai mobil dan motor, hal yang pasti sangat sulit dilakukan oleh orang buta, bahkan banyak orang normal yang tidak bisa melakukannya. Hellen Keller tidak pernah membiarkan cacat tubuh membatasinya untuk ‘menikmati’ dunianya. Hellen pernah mengatakan, “meskipun dunia ini penuh dengan penderitaan, dunia ini juga penuh dengan perjuangan yang mengalahkan penderitaan tersebut”. “Orang yang paling menyedihkan di dunia adalah orang yang bisa melihat tapi tidak punya visi” – Hellen Keller.

 

Hidup Hellen Keller seperti taman yang indah, Ia menanami hidupnya dengan kerajinan, kekuatan, keuletan dan kasih, sehingga akhirnya walaupun awal kehidupannya ‘penuh dengan ilalang’, hidup Hellen Keller berakhir dengan begitu Indah. Tapi berapa banyak orang yang sebenarnya penderitaannya tidak seberapa bila dibandingkan dengan penderitaan Hellen, mengeluh dan menyerah kalah dalam hidupnya?

 

Bagus atau tidaknya taman hidup kita ditentukan oleh pikiran kita yang bekerja sebagai benih yang ditanam di taman. Jika kita menanami taman kita dengan benih bunga: pikiran positif, kebaikan, pengharapan, keuletan, maka taman kita akan penuh dengan bunga-bunga indah. Tapi jika kita menanami taman kita dengan benih ilalang: pikiran buruk, negatif, kekuatiran, kemalasan maka akhirnya yang tumbuh di taman kita adalah ilalang. Jangan pernah mengharapkan agar tamanmu penuh dengan bunga indah bermekaran, jika setiap hari yang kamu lakukan adalah menanaminya dengan ilalang, kuatir dan berpikiran buruk. Biasanya mereka yang melakukan itu adalah orang-orang yang iri melihat taman orang lain yang berbunga dan menyalahkan Tuhan karena berpikir bahwa Tuhan tidak berbuat adil. Walaupun sebenarnya yang patut disalahkan adalah diri mereka sendiri.

 

Seperti apakah taman hidupmu, penuh dengan bunga atau ilalang? Jangan pernah salahkan orang lain atau keadaan atau bahkan Tuhan atas apapun yang terjadi dalam hidupmu. Semua orang punya masalah, semua orang punya kelemahan dan keterbatasan, apapun juga bentuknya, tapi tidak semua orang memandang kelemahan dan keterbatasannya dengan pikiran positif dan berjuang keras menghadapi masalah hidupnya. Makanya ada taman yang kelihatan begitu indah, ada juga taman yang kelihatan tidak terpelihara sama sekali. Peliharalah pikiran, hati dan perkataanmu, dengan begitu kamu memelihara hidupmu.

 

Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan”- Amsal 4 : 23

 

Silta.Ns

*Sumber : Hellen Keller, Wikipedia Bahasa Indonesia Ensiklopedia Bebas