9 Cara untuk Membuat Anak Mendengarkan

Advertising






Advertising






“Anak-anak tidak pernah bisa mendengarkan orangtua mereka dengan sangat baik, tapi anak-anak tidak pernah gagal meniru mereka” – James Arthur Baldwin

 “Seorang anak lebih butuh untuk didengarkan ketimbang diceramahi” – Robert Brault


“Orang-orang yang mendidik anak-anak dengan baik jauh lebih dihargai daripada orang-orang yang memproduksi anak-anak; karena yang ini hanya memberikan hidup, sedangkan mereka memberikan seni cara hidup yang baik” – Aristotle 

9 Cara Untuk Membuat Anak-Anak Mendengarkan dengan Baik


Harus kita akui, kadang-kadang meminta anak-anak untuk melakukan sesuatu secara berulang-ulang membuat kita gila. Di sekolah, mereka melakukan apa yang dikatakan kepada mereka. Pasangan anda pulang ke rumah dan anak-anak melakukan apa yang Ia minta. Tetapi ketika anda meminta mereka melakukan hal yang sederhana, mereka tiba-tiba seperti tidak bisa mendengar dan anda seperti tidak ada. Kita semua pernah berada di posisi seperti itu, tetapi berteriak kepada anak-anak tidaklah bisa membuat mereka menurut pada anda dalam jangka waktu lama, bahkan akan membuat keadaan lebih sulit diantara kalian.

 

Yakinlah, seseorang yang keras kepala dan tidak mau mendengar pun bisa berubah! Hanya ingatlah, memberikan aturan-aturan dasar dan konsisten, yang akan jauh lebih efektif daripada berteriak, selain itu anda akan model anutan yang baik !


1. Apa yang salah ? Perhatikanlah apa akar penyebab kelakuan buruk tersebut. Kadang kenakalan anak-anak disebabkan karena kelelahan atau kelaparan. Mungkin mereka diejek-ejek disekolah hari itu, atau mungkin mereka iri dengan saudara kandung mereka. “Biasanya selalu ada alasan penyebab kelakuan tersebut. Mungkin saat Ayah pulang jam 8 malam dan anak anda tidak melihatnya atau anda mungkin terlalu sibuk untuk bermain dengan mereka,” kata Suzie Hayman, seorang konsuler keluarga. “Kadang kita menghukum anak kita karena membuat keluhan-keluhan yang beralasan. Katakan pada mereka, anda mungkin tidak bisa mengubah keadaan, tapi anda bisa mendengarkan.”

 

2. Kerjakan satu persatu. Tidaklah benar untuk meminta anak lima tahun untuk menyimpan pakaiannya, merapikan krayonnya, dan berhenti membenturkan kepala adiknya yang berumur 2 tahun ke tembok. Mulailah dengan hal yang paling penting dulu (kepala adiknya) dan ketika itu selesai barulah memintanya mengerjakan hal yang lain, satu persatu.

 

3. Jangan mengendorkan aturan. Buatlah kebijakan jika anak anda berkelakuan buruk, jangan biarkan dia melakukannya, hanya supaya masalahnya selesai. Jika anak anda tidak mau menggosok gigi dan anda membiarkan dia pergi tidur dengan mulut penuh coklat, maka anak anda akan mengharapkan hal itu terjadi lagi dimasa mendatang.

 

4. Orang tua yang berpikir positif.  Jauh lebih baik untuk memberikan pujian pada kelakuan baik daripada keluhan saat mereka berkelakuan buruk. “Pujian seharusnya bersifat umum tapi menjelaskan secara spesifik tindakannya – ‘terimakasih karena sudah meletakkan bajumu di lemari’, atau ‘terimakasih karena sudah berbagi mainanmu dengan saudaramu’,” kata Dr. Howard Sloane, psikolog pendidikan dan pengarang buku ‘The Good Kid Book’. “Dan itu harus diberikan sesaat setelah kejadian itu berlangsung, sedekat mungkin waktunya.”

 

5. Jelaskan secara spesifik. Jika ada suatu hal yang anda tidak suka, beritahu mereka – gunakan bahasa yang jelas dan sederhana dan tunjukkan masalahnya. Ketika anak anda menarik semua makanan dari dalam kulkas, tidaklah baik untuk mengatakan, “Kamu mengerikan, hentikan itu!”, sebaiknya katakanlah : “Tolong jangan menarik semua makanan keluar dari kulkas. Ambil wortel dan mentega yang jatuh dan taruh kembali kedalam kulkas.” Sama seperti itu, mintalah apa yang anda inginkan dengan cara yang spesifik. “Rapikan kamarmu” tidak akan berhasil. “Tolong masukkan mainanmu kedalam kotak” dan kemudian “Tolong letakkan sandalmu kembali kedalam lemari”, akan berhasil. Libatkan mereka ketika anda merapikan dan buatlah hal itu menjadi menyenangkan.

 

6. Jadilah panutan yang baik. “Sangatlah penting untuk anda melakukan sendiri tindakan/kebiasaan yang anda ingin mereka lakukan,” kata Suzie Hayman. “Ini berarti anda tidak berteriak, anda mendengarkan, dan anda menjelaskan. Jika mereka melakukan sesuatu yang anda tidak suka, jangan emosional. Mintalah mereka dengan sopan untuk menjelaskan apa yang terjadi.”

 

7. Jangan memberikan suap atau ancaman. Biarkan anak-anakmu tahu konsekuensi negatif dari tindakan mereka, seperti baju kotor di lantai berarti tidak ada baju yang bagus untuk dipakai ke pesta ulang tahun teman mereka. “Masalahnya adalah banyak ahli tidak menjelaskan mengenai perbedaan antara ancaman dan konsekuensi negatif,” kata Dr. Sloane. “Jika kamu mengatakan sebelumnya, ‘Jika kamu membersihkan ruanganmu maka kamu bisa menonton film,’ memberi sinyal kepada mereka bahwa jika mereka tidak membersihkan kamar mereka, seseorang akan memberikan mereka sesuatu/suap supaya mereka membersihkan kamar mereka. Menunggu sampai mereka membersihkan kamar mereka dan kemudian berikan sesuatu, akan lebih baik.

 

8. Tiga langkah menuju kebiasaan yang lebih baik. Sekalipun anda sering gagal dimasa lalu dalam hal ini, anda akan berhasil jika anda melakukan setiap langkah dengan benar, mempunyai aturan rumah yang jelas dan sistem reward/hadiah yang baik. Jelaskan kepada anak anda tindakan/kebiasaan yang diterima didalam rumah anda, dan masukkanlah ‘mendengar dengan baik’ sebagai salah satu poin untuk mendapatkan reward.

 

9. Hadiahi kebiasaan yang baik. Kamu bisa membuat permainan tentang kebiasaan yang baik – misalnya Ibu yang membacakan cerita favorit mereka sampai beberapa kali, Ayah yang mengenakan topi yang aneh saat makan malam, atau mereka mengenakan topi-topi unik saat makan, mau tidur, dll. Gunakan imajinasi anda dan imajinasi anak-anak anda. Bersenang-senanglah !

 

Diterjemahkan dari Supernanny.co.uk http://www.supernanny.co.uk/Advice/-/Parenting-Skills/-/Routine-and-Teamwork/9-ways-to-make-them-listen.aspx