Mengelola Uang

"Kesulitan keuangan adalah salah satu penyebab utama gagalnya pernikahan" - Myles Munroe

"Terlalu banyak orang yang menghabiskan uang mereka.. untuk membeli apa yang mereka tidak suka.. untuk mengesankan orang-orang yang  mereka tidak suka." - Will Rogers

 

“Jangan katakan padaku mengenai prioritas-prioritasmu. Tunjukkan saja padaku kemana kamu menghabiskan uangmu dan aku akan memberitahumu apa prioritas-prioritas mu” – James W. Frick

“Sangatlah baik untuk memiliki uang dan hal-hal yang bisa dibeli oleh uang, tapi  baik juga, untuk sekalikali mengecek dan memastikan bahwa kamu tidak kehilangan apa yang uang tidak bisa beli” – George Lorimer

Beberapa waktu lalu seorang teman bercerita kepada saya soal kehidupan keluarganya. Dia dan suaminya bekerja keras supaya bisa mengumpulkan uang muka untuk membeli rumah. Selama ini mereka tinggal di rumah kontrakan dan belum pernah punya rumah sendiri. Saya yang mendengarkan merasa terenyuh karena keluarga mereka yang bekerja keras. Beberapa hari kemudian saya baru memperhatikan kalau teman saya ini sering mengupdate status facebooknya dengan makan-makan di restoran. Ternyata dia tidak pernah masak dirumah, selalu makan ataupun jajan diluar rumah, kadang di restoran. Memang sih keliatannya biaya satu kali makan di restoran tidak terlalu mahal, tapi kalau dikalikan 10 atau 20 kali setiap bulannya, kan jumlahnya jadi lumayan.

 

Di TV Canada, ada acara show `Till Debt Do Us Part` yang berarti `Sampai Hutang Memisahkan Kita` (pelesetan dari `sampai maut memisahkan kita`).  Acara ini mengisahkan tentang pasangan-pasangan di Canada yang mengalami kesulitan keuangan, terjerat kartu kredit ataupun hutang. Banyak perceraian di amerika terjadi karena kesulitan keuangan, oleh karena itu Gail Vaz Oxlade, seorang ahli keuangan, membantu keluarga-keluarga yang kesulitan ini untuk menata kembali keuangan dan melunasi hutang-hutang mereka. Di awal acara biasanya pasangan yang kesulitan keuangan itu sering marah-marah satu dengan yang lain dan tak jarang yang sudah tidak mau berbicara lagi dengan pasangannya, tapi begitu mereka mulai berkomunikasi dan bekerja sama untuk menangani keuangan mereka, hubungan diantara mereka mulai membaik, bahkan ada yang sampai memperbaharui kembali ikat janji pernikahan mereka. Kebanyakan masalah utama bengkaknya hutang satu keluarga adalah karena pasangan tidak bisa mengontrol uang mereka, mereka sama sekali tidak punya perencanaan berapa banyak uang yang akan mereka habiskan untuk makan dan keperluan sehari-hari, uang untuk membayar tagihan-tagihan atau uang untuk bersenang-senang. Ada yang karena begitu ingin menyenangkan anak-anaknya, membelanjakan banyak mainan yang mereka inginkan, walaupun sebenarnya ia tidak mampu membayar dan harus berhutang karenanya. Akibatnya hubungannya dengan suami menjadi tidak harmonis lagi dan sering bertengkar, semua alasannya karena anak. Padahal kan hadiah terbaik untuk seorang anak adalah hidup dalam keluarga yang harmonis, bukan mainan, seorang anak akan hidup stress bila setiap hari harus melihat ayah ibunya bertengkar, apalagi kalau akhirnya bercerai.

 

Saya senang sekali melihat acara tersebut, dan banyak belajar untuk membuat prioritas keuangan keluarga. Saya dan suami saya senang travelling, itulah prioritas kami. Demi prioritas itu, kami membuat anggaran tiap minggunya untuk belanja makanan/keperluan harian, transportasi, makan diluar atau nonton bioskop. Saya dan suami hanya bisa belanja pakaian sebulan sekali, dengan jumlah tertentu, bukan karena kami tidak mampu, tapi karena kami punya prioritas lain dalam hidup kami, dan itu bukan makanan atau pakaian. Seorang teman saya kaget mendengar anggaran belanja kami untuk makanan seminggu, yang jumlahnya setengah dari total belanjanya, padahal dia hidup sendirian. Kami tidak kelaparan kok, kami makan enak, sungguh, walaupun saya harus sering masak di rumah dan jarang sekali makan diluar.  Saya mungkin tidak bisa sering menikmati makan di restoran mahal, sering makan makanan enak, atau berbelanja pakaian. Tapi demi travelling tanpa hutang, saya dengan senang hati mentaati anggaran yang kami berdua buat, begitu pula suami saya. Kami berdua hampir tidak pernah bertengkar karena masalah keuangan.

 

Apa mimpimu, apa yang kamu ingini dalam hidup : rumah, mobil atau pendidikan anak? Seringkali banyak impian kita yang tidak tercapai karena kita menginginkan ‘semua’ : makan enak, belanja puas, rumah bagus, mobil bagus, anak-anak sekolah tinggi. Yah, kalau kita bos di perusahaan yang hebat, tentunya semuanya bisa, tapi kan kenyataannya tidak begitu, kita cuma punya uang dengan jumlah tertentu yang bisa kita gunakan. Oleh karena itulah prioritas dalam pemakaian keuangan sangat penting, dengan prioritas kita bisa tahu pengeluaran mana yang harus didahulukan, mana yang harus dipotong dan dihilangkan. Kalau prioritas mu adalah makanan dan pakaian, kamu bisa pergunakan semua uangmu disana, tapi kalau prioritasmu bukan makanan atau pakaian, jangan habiskan semua uangmu disana. Di acara show TV diatas, ada pasangan yang selalu minum kopi mahal dan makan diluar rumah setiap harinya, padahal kalau mereka hemat : minum kopi dan makan di rumah, total uang yang dikumpulkan dari penghematan tersebut selama 2 tahun bisa mereka pakai untuk impian bulan madu mereka yang tertunda 10 tahun : pergi ke Hawaii.

 

Banyak orang Kristen yang saya kenal, karena merasa Tuhan lah yang akan menyediakan segala-galanya, sering menghamburkan uangnya. “Ah, kan ada Tuhan, nanti Tuhan pasti kasih berkat kok” begitu biasanya dalih mereka, ketika mereka menghabiskan uang mereka untuk makanan, pakaian, mentraktir teman atau keluarga besar. Nanti begitu uang mereka habis, mereka akan berdoa “Tuhan berkati kami” dan menunggu berkat dengan tidak sabar. Ada seorang teman yang pernah berkata kepada saya, “sepertinya orang yang tidak percaya Tuhan lebih diberkati daripada orang yang percaya Tuhan”. Kalau saja teman saya itu mau membuka mata dan melihat kalau orang yang tidak percaya Tuhan itu berhemat dengan hidup sehari-harinya demi modal usaha pribadinya hingga akhirnya sukses, tentunya dia tidak akan berkata begitu. Selalu ada pengorbanan dari seseorang demi prioritas yang mereka impikan, “setiap orang harus membayar harganya”, termasuk orang Kristen. Saya sendiri tidak mau menjadi orang Kristen yang tidak bijaksana itu, buat saya, gaji suami saya adalah berkat Tuhan yang harus kami atur pemakaiannya dengan baik. Dengan begitu saya menghormati dan menghargai berkat Tuhan atas keluarga kami.

 

Apa impianmu? Apa yang paling penting dalam kehidupan keluargamu sekarang? Buat prioritas keluargamu setelah itu buat anggaran bulanan, berapa banyak yang bisa dihabiskan untuk belanja keperluan sehari-hari tiap minggunya, membayar tagihan rumah/listrik/air/telepon, membayar cicilan kartu kredit, belanja baju dan berapa yang harus ditabung untuk menggapai impianmu. Dan setelah itu, taatilah anggaranmu, sekalipun banyak tantangan menghadang, sekalipun sekeliling kita sepertinya semua orang sedang bersenang-senang dengan uang mereka (jangan lihat apa yang kelihatan, karena banyak orang rela berhutang demi kepuasan sementara), bertahanlah sampai impianmu tercapai.

 

Dan selalu ingatlah “masalah keuangan itu, bukan karena berapa banyak jumlah uang yang masuk ke kantong, tapi berapa banyak uang yang keluar dari kantong tersebut”

Selamat membuat prioritas !

 

Silta.NS