Hidup dalam Pernikahan

Advertising






Advertising






"Banyak perkawinan akan menjadi lebih baik jika suami dan istri jelas mengerti bahwa mereka berada pada posisi yang sama" - Zig Ziglar

"Bukalah matamu lebar-lebar sebelum pernikahan, dan setengah tertutup sesudahnya" - Benjamin Franklin 

Prioritas seorang istri :

no. 1   Tuhan

no. 2   Suami

no. 3   Anak-anak

no. 4   Keluarga

no. 5   Teman-teman

Banyak kekacauan rumah tangga dimulai karena istri salah menempatkan prioritas !

Teman saya yang baru saja dilamar oleh pacarnya, menulis banyak status di facebooknya dengan kata-kata penuh cinta kepada tunangannya, ‘Kekasihku, sayangku, aku rindu padamu, aku cinta padamu’. Berjuta-juta kata-kata indah di ucapkan pada pasangannya. Persis seperti sebuah TV show yang pernah saya tonton mengenai wanita-wanita yang sedang mempersiapkan pernikahan dan memilih gaun pengantin mereka. Saya mendengar banyak kata-kata pujian yang mereka berikan pada pasangan mereka, ‘he is my rock, dia pujaanku, dia hatiku, dia segala-galanya buat aku, aku sangat mencintainya’.

 

Hampir semua pasangan yang akan menikah bisa mengucapkan sejuta alasan mengapa mereka mau menikahi pria itu dan mengatakan betapa beruntungnya mereka karena memiliki pasangan yang akan mereka nikahi. Semua pasangan bermimpi untuk  hidup bahagia dalam pernikahan mereka and they live happily ever after…..

 

Kenyataannya, banyak pernikahan yang berujung di perceraian, dan ironisnya pasangan yang bercerai juga mempunyai sejuta alasan mengapa mereka mau menceraikan pasangan yang dulu di puja-puja nya. Badan Urusan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung (MA) mencatat selama periode 2005 hingga 2010 terjadi peningkatan perceraian hingga 70 persen di Indonesia. Pada tahun 2010, terjadi 285.184 perceraian di seluruh Indonesia. Penyebab pisahnya pasangan jika diurutkan tiga besar paling banyak adalah akibat faktor ketidakharmonisan sebanyak 91.841 perkara, tidak ada tanggung jawab 78.407 perkara, dan masalah ekonomi 67.891 perkara. Saya juga membaca di internet bahwa sebanyak 90% dari ketidakharmonisan rumah tangga disebabkan oleh perselingkuhan. Aih, aih, dimana cinta yang dulu diagung-agungkan untuk pasangannya yah.

 

Seorang teman saya pernah berkata, kalau kita menikah dengan orang asing akan berbeda bila dibandingkan menikah dengan orang Indonesia, dijamin pernikahan bakal lebih langgeng, karena orang bule itu lebih romantis dan bertanggung jawab ketika mereka menikah katanya. Saya hanya saja tertawa mendengarnya, karena saya pernah membaca data statistik mengenai pernikahan dan perceraian di Amerika Serikat. Di tahun 2009 ada 2.080.000 pasangan yang menikah tapi ada 940.000 pasangan yang bercerai (US Statistic Marriage and Divorce). Hampir 40-50% pernikahan di Amerika berakhir dengan perceraian. Berarti kebahagiaan pernikahan bukan disebabkan karena ras, suku atau bangsa bukan ;-)

 

Tapi selain hal-hal buruk, data-data statistik diatas juga membuktikan bahwa banyak juga pasangan yang tidak bercerai dan masih hidup menikah dengan pasangannya. Banyak dari antara pasangan tersebut yang hidup bahagia dengan pasangannya sampai maut memisahkan. Saya sering menyaksikan pasangan-pasangan yang berbahagia, mereka sangat bertoleransi satu dengan yang lain, menghormati satu dengan yang lain, dan mesra satu dengan yang lain, walaupun mereka sudah berpuluh-puluh hidup dalam pernikahan.

 

Jeffrey Rahmat pernah berkata, baik buruknya suatu hubungan, termasuk hubungan pernikahan, tergantung pada kedua individu dalam hubungan itu. Kalau kedua pribadi yang menikah sama-sama baik dan siap, maka kemungkinan besar pernikahan mereka akan lebih berhasil. Kemampuan untuk beradaptasi, kemampuan untuk mengerti dan menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing pasangan adalah kunci penting kebahagiaan pernikahan.

 

Lalu bagaimana caranya untuk menjadi siap dalam pernikahan ?  Jawabannya menurut saya, sama seperti hal lain dalam hidup, yaitu : belajar.  Untuk mendalami suatu hal yang baru, kita harus mau belajar, belajar dari buku, seminar, atau belajar dari pengalaman orang lain. Jika kita bisa belajar dari pengalaman orang lain yang sudah melewati pernikahan dengan baik, mengapa memilih merasakan jatuh bangun dari pengalaman sendiri yang belum tentu akan berakhir dengan baik? 


"Umat Ku binasa karena kurang pengetahuan" (Hosea 4 : 6 KJV), begitulah kata Firman Tuhan. Buat saya pribadi, untuk bisa menjadi pribadi yang siap dalam pernikahan, saya harus belajar banyak dari pengalaman – pengalaman pasangan lain yang sudah lama menikah, membaca banyak buku-buku atau informasi di website yang baik tentang pernikahan dan belajar mempraktekkannya dalam kehidupan pernikahan saya sendiri.

 

Saya tahu, semua pasangan yang menikah ingin agar pernikahannya juga langgeng dan bahagia. Oleh karena itu, saya membagi/share beberapa tulisan/buku/khotbah yang pernah saya baca supaya bisa menjadi berkat bagi pernikahan wanita-wanita lainnya. Biarlah Tuhan memberkati semua pasangan-pasangan yang sudah menikah, supaya menjadi pasangan yang lebih kuat dan berbahagia, sampai maut memisahkan.

 

Silta.NS