“Uang itu hanya sebuah alat. Ia akan membantumu menuju ketempat yang kamu inginkan, tapi uang tidak dapat menggantikanmu sebagai pengemudi” – Ayn Rand


“Orang yang meminjamkan uang punya kenangan-kenangan yang lebih bagus daripada orang yang berhutang” – Benjamin Franklin

“Jangan pernah memakai uangmu sebelum uangnya kamu miliki” – Thomas Jefferson

“Jika kamu hanya ingin melakukan sesuatu yang kelihatannya mudah, hidup akan lebih keras. Tapi jika kamu bersedia melakukan apa yang kelihatannya susah, hidup akan jauh lebih mudah” – T. Harv Eker

Pola hidup Si Kaya dan Si Miskin

 

Pernahkah kamu memperhatikan pola dan gaya hidup orang-orang kaya dan orang-orang miskin. Saya terheran-heran ketika Ibu saya menunjukkan kepada saya, tempat pekuburan lama yang bentuknya seperti bangunan-bangunan di Jakarta timur, yang dijadikan pemukiman liar oleh orang-orang yang tidak mempunyai rumah. Yang membuat saya heran, bukannya karena keberanian mereka untuk tinggal di kuburan setiap saat (ogah deh ah), tapi apa yang mereka punyai dalam rumah kuburan itu. Banyak orang yang tinggal di kuburan itu, memiliki alat-alat elektronik seperti tv, kulkas, mesin cuci, bahkan sepeda motor. Mereka memilih menghabiskan uangnya untuk membeli sesuatu demi gengsi, ketimbang mempergunakannya untuk membeli apa yang mereka benar-benar butuhkan. Lah, bayangkan apa yang terjadi, kalau mereka diusir pemerintah dari situ?

 

Gaya hidup ini berbeda sekali dengan gaya hidup salah satu orang kaya yang saya kenal, mantan boss saya. Perusahaan yang dipimpin oleh mantan boss saya ini mempunyai omzet puluhan milyar tiap bulannya. Mantan boss saya ini sangat kaya, jika ia mau berhenti bekerja, dia bisa memuaskan dirinya dengan pergi kemana saja yang ia mau, makan-makanan apa saja yang ia mau ataupun membeli apa saja yang ia mau. Tapi yang saya perhatikan dan belajar dari kehidupannya adalah apa yang ia pergunakan dengan uangnya. Mantan boss saya ini masih bekerja di perusahaan yang ia bangun (walaupun dia sama sekali tidak perlu melakukannya),hanya karena dia suka bekerja . Dia makan siang dengan ransum rantangan yang disiapkan oleh istrinya atau katering dengan menu yang sederhana. Dia hanya pergi ke luar negeri satu atau dua kali saja setahun (meskipun dia bisa pergi jalan-jalan keluar negeri setiap hari). Uangnya lebih banyak dia pergunakan untuk membangun bisnisnya lebih besar, membeli banyak gedung, bangunan, sehingga aset-aset yang dia miliki semakin banyak. Yang kaya jadi bertambah kaya. Menurut perkiraan saya, mantan boss saya ini hanya menghabiskan kurang dari 30% penghasilannya untuk hidup sehari-hari. Tentunya dia bisa mempergunakan 100% uangnya untuk gaya hidupnya, tapi dia tidak memilih melakukan seperti itu. Dia membangun aset-asetnya dengan uang yang dia punya.

 

Tentu saja yang sedikit bagi orang kaya, jumlahnya lebih besar dari apa yang dimiliki oleh orang miskin atau bahkan kelas menengah, yang dimaksudkan disini bukan soal jumlah uang. Tapi sama seperti orang miskin bisa menghabiskan uangnya untuk membeli gengsi, orang kaya juga bisa memilih untuk menghabiskan semua penghasilannya untuk gengsi atau kepuasan pribadi. Tapi kebanyakan orang kaya tidak melakukannya, mereka mengalokasikan sebagian besar uang yang mereka peroleh untuk investasi atau bisnis supaya bisa memperoleh uang lebih banyak lagi. Akibatnya yang kaya bertambah kaya dan yang miskin tetap atau bahkan bertambah miskin.

 

Coba perhatikanlah gaya hidup kebanyakan orang miskin dan kelas menengah. Begitu punya uang, begitu gajian, selalu memikiran, ‘apa yang bisa dibeli dengan uang segitu’. Malahan banyak yang terlibat hutang kartu kredit, karena melakukan gaya hidup ‘beli dulu bayar belakangan’. Akibatnya banyak yang terlibat hutang, dan gaji mereka hanya habis untuk membayar hutang. Sayangnya masih banyak yang tidak jera dalam hal itu, dan malah memilih untuk memiliki lebih banyak kartu kredit, supaya bisa ‘gali lubang tutup lubang’. Apa hidup tidak stress kalau begitu?

 

Kebanyakan orang miskin/menengah menghabiskan lebih dari 50% uang yang mereka peroleh untuk gaya hidup, diluar pengeluaran tetap seperti rumah, listrik, air atau transportasi.  Kebanyakan tidak pernah memikirkan tentang tabungan, uang pensiun atau investasi. Teman-teman saya banyak yang menghabiskan uang mereka untuk gadget (biar kelihatan gaul), pakaian-pakaian, sepatu, aksesori, makan-makan di restoran mahal, jalan-jalan baik didalam maupun ke luar negeri. Semakin banyak uang yang mereka peroleh, semakin banyak uang dihabiskan untuk keperluan-keperluan tersebut. Jarang sekali dari teman-teman saya yang mempunyai simpanan pensiun. Boro-boro mikirin pensiun atau investasi, tabungan aja habis digerus terus.

 

Bersyukur, saya masih melihat beberapa teman saya yang berasal dari kelompok miskin/menengah mempunya pola prilaku orang kaya. Mereka umumnya mempunyai anggaran atau budget berapa banyak yang akan mereka habiskan untuk kehidupan sehari-hari, punya tabungan atau bahkan berinvestasi. Saya punya seorang teman yang berinvestasi di tanah dan bangunan, dia sama sekali bukan berasal dari keluarga kaya. Dia hanya menyisihkan uang tiap bulan dari hasil pekerjaannya dan akhirnya punya cukup uang untuk membeli  bangunan satu persatu dan menyewakannya. Rata-rata dari mereka hidup sama seperti teman-teman yang lain, makan diluar sesekali, membeli baju ataupun jalan-jalan. Tapi perbedaannya, mereka mengatur keuangannya dengan lebih baik, punya tabungan dan berinvestasi. Sekali-kali mereka menikmati hidup tapi tidak pernah berhutang demi menikmati hidup, mereka tahu persis apa yang mereka harus lakukan dengan uang mereka. Mereka punya pola pikir ‘orang kaya’. Saya yakin mereka punya masa depan yang cerah menanti  di depan mereka.

 

Bagaimana dengan mu, pola pikir apakah yang kamu punya sekarang, pola mikir orang miskin atau pola pikir orang kaya? Ingatlah apapun yang kamu lakukan sekarang, akan menentukan masa depanmu nanti.

 

Silta NS