Punya Masalah?
Saya juga !

 

Saya tahu bahwa setiap orang pasti punya masalah, dan saya yakin kalau semua orang juga tahu akan hal itu. Tapi entah kenapa, beberapa bulan ini saya merasa bahwa sayalah orang yang paling bermasalah dari seluruh orang bermasalah didunia. Saya merasa sedih, tertekan dan depresi.


Minggu lalu saya baru saja dipecat dari pekerjaan saya, tanpa ada kejelasan apa apa. Tempat saya bekerja hanya mengatakan bahwa mereka berhak memecat saya tanpa perlu memberikan penjelasan apapun selama saya masih masa 3 bulan percobaan kerja. Saya shock berat, ini bukan pertama kalinya saya bekerja, saya sudah bekerja 12 tahun lamanya di Indonesia, dan saya merasa selalu berprestasi dalam pekerjaan saya. Mantan bos bos saya senang pada cara saya bekerja, dan mereka pasti mau menerima saya bekerja kembali dengan tangan terbuka di perusahaan mereka. Tapi entah kenapa, di Negara asing ini, dengan posisi pekerjaan yang rendah, saya dipecat. Saya merasa terhina dan tertolak. Minggu ini, untuk melengkapi penderitaan saya, setelah saya berbahagia karena mendapatkan hasil tes pack positif hamil (saya berharap dan berusaha untuk hamil selama 1,5 tahun terakhir ini), saya harus belajar menahan kesabaran saya ketika saya mendapatkan haid. Sepertinya embrio dalam perut saya itu tidak berkembang dan akhirnya gugur. Saya pernah mengalami keguguran beberapa bulan sebelumnya, dan yang ini menjadi beban yang berat buat saya. Saya merasa seperti orang tertolak, saya merasa tidak layak dipekerjakan dan tidak layak untuk menjadi seorang ibu.


Saya tidak tahu kenapa saya harus mengalami hal seperti ini, dan saya tidak mengerti mengapa Tuhan membiarkan kejadian seperti ini terjadi kepada saya, saya ini orang baik-baik (menurut saya ;)). Setidaknya saya merasa bahwa saya sudah berbuat baik kepada keluarga dan orang-orang sekitar saya. Saya merasa bahwa saya taat kepada Tuhan, hampir tiap hari saya membaca Alkitab.


Saya berusaha untuk tidak mengucapkan kekecewaaan atau amarah kepada Tuhan, saya merasa bahwa saya tidak boleh melakukan hal itu. Tapi diam diam saya kecewa, saya memendam kepahitan, perasaan tertolak, dan merasa diri sangat rendah. Apa mungkin saya ini sudah berbuat kesalahan besar kepada Tuhan tanpa saya sadari.


Kejadian ini berlangsung selama 2 minggu, sampai suatu waktu Tuhan yang baik membuka mata hati saya yang pedih. Tanpa saya sengaja, saya membaca kisah hidup Rick Warren, penulis buku terkenal “Purpose Driven Life”. Saya baru tahu bahwa dibalik kehidupannya sebagai pendeta yang memiliki jemaat besar, Rick Warren banyak mengalami masalah pencobaan dihidupnya. Istrinya, Kay, pernah mengalami dua jenis penyakit kanker ganas, menantu perempuannya kena penyakit tumor otak, seorang cucunya lahir prematur, anak bungsunya terkena penyakit mental dan akhirnya bunuh diri di tahun 2013. Seorang Rick Warren saja mengalami masalah besar seperti itu, apalagi saya, saya yakin Rick Warren jauh lebih ‘rohani’ daripada saya. Rick Warren menghadapi semua dukacita dalam kehidupannya itu dalam ketaatan kepada Tuhan dan terus melayani Tuhan. “Penderitaan”, kata Rick Warren, “ membuat kita menghargai sukacita.. Orang-orang yang mengalami penderitaan adalah orang-orang yang telah diberikan kesempatan untuk mengenali keterbatasan diri mereka dan mengenal Tuhan di saat terkelam mereka” (www. Christianitytoday.com).


Ketika saya mengetahui apa yang terjadi dalam hidup Rick Warren, saya menyadari bahwa penderitaan yang datang kepada kita, seringkali datang bukan karena kesalahan kita. Memang ada penderitaan yang disebabkan oleh kesalahan kita sendiri, seperti hobi berbelanja tanpa perhitungan, dan akhirnya terlibat masalah dengan hutang. Tapi seringnya banyak masalah datang tanpa penyebab. Masalah akan selalu datang selama kita hidup di dunia. Semua orang akan mengalami masalah, besar kecil, tua muda, miskin dan kaya. Orang yang paling rohani sekalipun, akan mengalami masalah besar yang mengguncang hidup mereka. Saya menyadari bahwa saya ‘pasti dan akan’ mengalami masalah silih berganti. Saya tidak bisa lari dari masalah, selama saya hidup dalam tubuh fisik saya di dunia ini. Suatu hari nanti, ketika tubuh fisik saya ini sudah tidak berfungsi lagi dan saya bertemu dengan pencipta saya, barulah saya akan terbebas dari masalah saya di dunia. Tapi di saat itu juga, saya harus mempertanggungjawabkan kehidupan saya di dunia di hadapan pencipta saya.


Banyak orang yang karena merasa stress dengan masalah hidup mereka, mengambil keputusan untuk mengakhiri hidup mereka. Mereka begitu yakin bahwa mereka akan terbebas dari masalah mereka di dunia ini ketika mereka mati. Mereka benar bahwa mereka akan terbebas dari masalah mereka di dunia, tapi mereka akan menghadapi masalah yang jauh lebih besar, didalam alam kekekalan. Setiap manusia harus memberi pertanggungjawaban atas hidup mereka di dunia. Ketika tubuh fisik kita mati, roh dan jiwa kita tetap hidup, karena roh dan jiwa itu kekal sifatnya. Saya pernah membaca buku atau mendengar kisah orang-orang yang pernah mengalami kebangkitan setelah dinyatakan mati secara medis. Orang-orang ini menceritakan bahwa pada saat jantung mereka berhenti berdetak, mereka merasa bahwa mereka pergi secara perlahan meninggalkan dan menjauhi tubuh fisik mereka. Mereka bisa melihat tubuh fisik mereka, tapi mereka tidak lagi berada dalam tubuh itu. Itulah roh mereka, yang sifatnya kekal dan abadi. Ada kehidupan setelah kehidupan fisik kita di dunia ini, dan apa yang akan kita jalani di kehidupan selanjutnya, adalah upah dari perbuatan kita selama mereka hidup di dunia.


Ketika saya menyadari kebenaran ini, semangat hidup saya kembali tumbuh. Saya sadar bahwa saya ini ‘harus’ punya masalah selama saya ini hidup di dunia, dan masalah itu akan datang silih berganti, sama seperti semua orang lain yang hidup di dunia. Saya ini tidaklah lebih baik dari orang lain, ketika orang lain mengalami masalah, dan orang lagi tidaklah lebih baik dari saya, ketika saya menghadapi masalah. Setiap orang memiliki jalur hidup masing masing dan masalah masing-masing. Kita tidak berhak untuk menghakimi orang lain yang mengalami masalah, ataupun menilai tindakan yang mereka lakukan ketika mereka mengalami masalah. Kita tidak boleh merasa diri kita lebih baik ketika melihat sekeliling kita bermasalah, tapi kita juga tidak boleh merasa diri kita rendah ketika kita berada dalam masalah. Justru sebagai manusia yang hidup dalam dunia yang penuh masalah ini, kita harusnya saling tolong menolong, mengulurkan tangan kepada keluarga, teman-teman atau sesama kita yang mengalami masalah, saling menguatkan satu dengan yang lain dalam menghadapi masalah.


Kesadaran saya akan hal ini membuat saya semakin menyadari bahwa hidup saya sepenuhnya berada dalam anugerah Tuhan. Tuhanlah yang memberi kekuatan dan penghiburan ketika saya menghadapi masalah. Tuhanlah yang akan memberikan saya pengetahuan dan pengertian atas masalah kehidupan yang terjadi dalam hidup saya (pada saatNya), asalkan saya mau mempercayaiNya dan tetap melangkah dalam ketaatan kepadaNya. Dan di akhir minggu, saya memilih memberikan waktu saya kepadaNya, masuk ke hadiratNya, mencurahkan hidup saya di altarNya, dan meninggalkan semuanya disana. Saya memilih untuk tersenyum dan tahu bahwa semua masalah yang datang kepada saya, suatu hari nanti, akan dibuatNya menjadi kebaikan untuk diri saya.


Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” - Mat 11:28