Stop Menanti yang Tak Pasti

“Jangan pernah mengejar cinta, kasih sayang atau perhatian. Jika semuanya itu tidak diberikan secara sukarela oleh seseorang, berarti semuanya itu tidak berharga untuk dimiliki” - Unknown

“Ketika orang-orang pergi meninggalkanmu, biarkanlah mereka pergi. Takdirmu tidak pernah terikat dengan orang-orang yang meninggalkanmu, dan itu bukan berarti bahwa mereka bukan orang-orang baik. Itu artinya bagian mereka dalam cerita hidupmu sudah berakhir” - Tony McCollum

"Kamu tidak bisa membuat seseorang mencintaimu. Yang bisa kamu lakukan hanya menjadi seseorang yang bisa dicintai. Selanjutnya terserah mereka." - John Bright

“Jangan biarkan seseorang menjadi prioritasmu sedangkan kamu cuma jadi pilihan lain mereka” - Unknown

“Tuhan mempunyai segala sesuatu yang baik bagi kita para single, ketika kita membebaskan diri dan mulai menjalani kekayaan dan ritme kehidupan” – Luci Swindoll di ‘Wide my world, narrow my bed'

Saya pernah melihat beberapa status teman-teman single saya di facebook : “Andai dia tahu bagaimana perasaanku”, “Tidakkah kau tahu betapa aku mencintaimu”. Sepertinya mereka terjebak dalam hubungan ‘cinta bertepuk sebelah tangan’. Status-status mereka di facebook biasanya melow dan menyedihkan untuk dibaca.

 

Dulu saya juga pernah terjebak dalam hubungan seperti itu. Saya begitu menyayangi seorang pria yang tidak begitu peduli dengan saya. Pria ini adalah pria yang baik, oleh karena itu saya menyukainya. Saya bisa melihat, dalam ‘kacamata saya’, betapa kami bisa bahagia berdua, bahwa saya adalah pasangan yang terbaik untuk dia. Saya berdoa untuknya setiap hari, saya begitu yakin bahwa dia tidak akan pernah menemukan wanita lain yang begitu mencintai dia seperti saya mencintainya. Saya hidup dalam penderitaan penantian saya dan menghabiskan waktu saya selama beberapa tahun menunggunya.

 

Beberapa wanita (berbeda dengan pria) bisa dengan mudah ‘memberikan hatinya’ kepada seorang pria, hanya karena pria itu berbuat baik atau memberi sedikit perhatian lebih padanya. Padahal belum tentu sang pria melakukannya karena merasa tertarik, mungkin saja pria itu melakukannya karena memang dia seorang yang baik. Tapi banyak wanita, yang sering salah menanggapi kebaikan atau perhatian seorang pria. Mereka mulai berpikir, “oh pria itu baik sekali padaku,  oh dia cocok seperti pria yang kuimpikan’, ‘jangan-jangan dia suka dengan saya’ dan lain-lain. Lama kelamaan mereka mulai mengkhayal atau bahkan bermimpi tentang pria tersebut. Jika pria yang mereka impikan itu juga menyukai mereka,tentunya tidak menjadi masalah . Tapi jika ternyata pria itu hanya sekedar berbuat baik, sedangkan sang wanita ‘keburu’ memberi hati pada pria tersebut, ini bisa jadi masalah.  

 

Beberapa wanita karena terlalu terobsesi dengan seorang pria, bersedia melakukan apa saja untuk mendapatkan pria tersebut, mulai dari cari-cari perhatian, membantu pria itu habis-habisan, memanipulasi atau berbohong, ataupun melakukan cara rohani seperti mendoakan si pria setiap hari. Yang banyak wanita tidak tahu adalah ketika kita mendoakan seorang pria secara khusus, doa tersebut akan membuat hati kita menjadi terikat dengan orang yang kita doakan (tapi tidak berlaku sebaliknya, hati orang yang kita doakan tidak akan terikat dengan kita, karena Tuhan juga memberi mereka kebebasan untuk memilih pasangan yang mereka ingini sendiri). Akibatnya adalah kita menjadi kecewa, sudah didoakan tiap hari kok malah keliatan menjauh, padahal hati kita malah makin merasa dekat dengan pria tersebut. Sulit bagi seorang wanita untuk melupakan pria yang ia doakan secara khusus setiap hari. Seorang teman saya begitu terikat dengan pacar lamanya, walaupun pria ini sudah punya pasangan yang baru. Teman saya tidak bisa melupakan pria ini sama sekali. Ternyata setelah diusut, teman saya ini sering sekali mencari-cari tau 'segala hal' tentang pria ini dan selalu mendoakannya, hampir setiap hari. Akhirnya ia berhenti mendoakan pria tersebut dan tidak lagi berusaha mencari tahu berita apapun tentang pria itu. Sekarang teman saya itu mendapatkan pasangan yang baru dan mereka saling mencintai.

 

Tuhan memberi kehendak bebas bagi semua orang, pria dan wanita, untuk memilih pasangan hidup mereka. Kita tidak mungkin bisa untuk berdoa dan menyetir kehendak seseorang untuk mengikuti kehendak hati kita

 

Saya sendiri akhirnya (belajar dari pengalaman yang menyakitkan) berhenti menunggu pria yang saya impikan dan mencari pria yang juga memimpikan saya. Sebuah artikel yang dibuat Tung Desem Waringin membuka mata saya untuk menghargai diri saya sendiri. Beliau mengibaratkan pencarian pasangan hidup seperti mencari pekerjaan yang baik. Ketika kita mencari pekerjaan yang baik, kita biasanya mempertimbangkan perusahaan, lokasi, posisi kerja, trasportasi, gaji, dll, yang ingin kita lamar. Jika semuanya cocok buat kita, maka kita langsung mengirimkan lamaran kesana. Biasanya jika kita memenuhi kriteria yang mereka butuhkan, kita akan dipanggil untuk interview, dan kalau oke, kita akan dipanggil untuk bekerja disana. Jika dalam kurun waktu 2 minggu sampai 1 bulan tidak ada panggilan interview atau panggilan setelah interview dari perusahaan itu, sebaiknya kita lupakan perusahaan tersebut dan mencari lagi lowongan pekerjaan di tempat lain. Sama seperti itulah kita harus belajar mencari pasangan. Jika kita  berkenalan dengan pria yang punya kualitas-kualitas bagus, seperti yang kita harapkan, pereratlah hubungan pertemanan dengannya, supaya bisa lebih mengenalnya. Berilah  waktu bagi hubungan tersebut untuk bertumbuh, 1 sampai  3 bulan. Perhatikanlah, jika dalam kurun waktu tersebut, terlihat hanya satu pihak yang kelihatannya tertarik  (alias kita bertepuk sebelah tangan) berkenalan lagi lah dengan pria yang lainnya. Jangan mau menghabiskan waktu dan perasaan untuk pria yang tidak tertarik dengan kita.

 

Jangan pernah memberikan ‘hati’ kita kepada pria yang tidak menginginkan ‘hati’ kita.  Hargailah dirimu sendiri. Kasihilah dirimu sendiri seperti Tuhan mengasihimu. Tuhan memandangmu : berharga dan mulia. Jika seorang pria tidak menghargaimu, lupakanlah mereka. Jangan pernah memaksa, membohongi atau memanipulasi seseorang  supaya mencintai kita. Semua hal yang bermulai dari pemaksaan, kebohongan atau manipulasi tidak akan pernah berakhir dengan baik. 

 

Jikalau kamu sekarang berada dalam hubungan dekat dengan seorang pria, pastikanlah bahwa pria ini menghormatimu dan mau berkomitmen untuk meneruskan hubungan itu kedalam pernikahan. Jika belum ada kejelasan apapun mengenai rencana masa depan hubunganmu, ajaklah pasanganmu berbicara dengan baik tentang hal tersebut. Jika dia tidak memberi jawaban dan alasan yang jelas, pertimbangkanlah, apakah hubungan mu ini layak untuk dipertahankan.

 

Dulu saya berpikir bahwa saya tidak akan bisa jatuh cinta lagi, karena sepertinya seluruh cinta saya, sudah habis saya berikan kepada pria impian saya. Ternyata saya salah, sangat salah, saya bisa jatuh cinta lagi dan akhirnya menikah dengan pria lain yang saya inginkan dan menginginkan saya. Saya sangat mencintai suami saya.

 

Untuk teman-teman single saya, pandanglah dirimu seperti Tuhan memandangmu, engkau berharga di mata Tuhan dan Tuhan punya pria yang lebih baik untuk mu di masa mendatang. Bersabarlah dan biarkan pria yang tidak peduli denganmu itu pergi dari hidupmu sekarang, engkau layak untuk dicintai dan diperlakukan dengan baik. Engkau layak mendapatkan pasangan hidup terbaik. 

 

Silta NS

 

 

 

Kadang-kadang orang-orang yang masih single, karena tahu firman Tuhan “kamu bisa mendapat apa yang kamu katakan,” memilih seseorang yang mereka sukai  dan mengklaimnya sebagai pasangan. 

 

Mereka memang mempunyai hak  (karena di Alkitab tertulis seperti itu) untuk mengklaim seorang istri atau suami. Tapi itu tidak berarti mereka mempunyai hak untuk menunjuk seseorang dan berkata, “saya akan mengklaim dia.” Orang yang diklaim tentunya juga punya hak sendiri. Mereka juga punya hak untuk mempercayai Tuhan seorang istri atau suami (tapi mereka harus membiarkan Tuhan mengirimkan seseorang kepada mereka).

 

Seorang lulusan dari seminari denominational yang masih muda hadir dalam pertemuan kami di Texas. Dia sudah dipenuhi Roh Kudus dan akhirnya dikeluarkan dari denominasinya.  Suatu hari dia mengajak saya dan istri makan siang, dimana dia mengumumkan bahwa, “saya akan segera menikah”.

 

“Oh,” kata istri saya, “siapakah wanita yang beruntung itu?”

 

Dia lalu melanjutkan cerita kepada kami tentang seorang wanita yang bernyanyi di paduan suara di gereja tempat ia beribadah. Dia bahkan belum mengenal siapa nama wanita tersebut. Dia belum pernah bertemu langsung dengannya. Dia hanya menyukai wajahnya ketika wanita itu berada didalam paduan suara.

 

Dia berkata,”aku mengklaim dia. Pendeta Hagin mengajar kamu bisa memiliki apa yang kamu katakan. Nah sekarang saya sudah mengatakannya”.

 

Istri saya bertanya ,”dan kamu bahkan belum pernah berkencan dengannya?”

 

“Tidak. Saya belum pernah menjabat tangannya, atau bahkan bertemu secara dekat dengannya.”

 

Jika saja dia bertemu dekat dengannya, wanita itu mungkin tidak semenarik seperti yang dia lihat dari kejauhan. Selain itu, tentunya wanita itu mempunyai keinginannya sendiri. Dia tidak boleh mengambil alih keinginan wanita itu.

 

Dia punya hak untuk mengklaim seorang istri. Alkitab berkata,”Siapa yang mendapat istri, mendapat sesuatu yang baik, dan ia dikenan Tuhan”. Dia punya hak untuk mengklaim seorang istri – tapi dia harus membiarkan Tuhan membawa kepadanya sesorang yang Ia inginkan untuknya.

 

Saya memulai berkhotbah semenjak saya berumur 17 tahun. Selalu ada orang yang berusaha menjadi pasangan untuk saya. Seorang gadis muda datang dan memberitahu saya bahwa Tuhan menunjukkan kepadanya bahwa dia harus menikahi saya. “Oke,” kata saya, “jika Tuhan berbicara kepada saya, saya akan menerimanya.” Tuhan tidak pernah berbicara pada saya.

 

Hal-hal seperti itu kelihatannya lucu,walaupun sebenarnya menyedihkan. Kehidupan harusnya tidak dirusak oleh hal-hal seperti itu.

 

Jangan pernah menyalah gunakan firman Tuhan sesuai dengan keinginanmu sendiri, hal seperti itu tidak akan pernah berhasil, dan kamu akhirnya mempermalukan dirimu sendiri.

 

Kenneth Hagin, "What to do when faith seems weak and victory lost"