Suami anda bukan Anak anda

Advertising





Advertising





"Tidak ada sorang pria yang mau istri mereka bertindak seperti ibu mereka"

"Jangan cereweti suami  anda perihal apa yang anda minta ia lakukan. Biarkan ia melakukannya dengan caranya"

"Dasarkan rasa hormat anda pada kualitas karakternya, bukan pada kemampuan atau kekurangannya dalam mengerjakan tugas-tugas rumah tangga"

"Jika suami anda mengerjakan tugas rumah tangga, jangan koreksi pekerjaanya. Jangan mengkritik. Jangan berkomentar, selain berterimakasih dan memujinya"

Satu keluhan yang sering saya dengar dari kaum wanita adalah, “Suamiku tidak berdaya. Pria malang itu tidak dapat mengerjakan apa-apa sendiri.” Yang membuat saya takjub adalah bahwa “pria-pria malang” ini seringkali bekerja di perusahaan besar dengan posisi yang bagus, menggembalakan sebuah gereja atau bahkan pemimpin perusahaan. Tetapi saat mereka melangkah lewat pintu depan rumah mereka, seakan-akan mereka berubah dari seorang pria menjadi anak kecil yang harus diurus. Sungguh siklus kemandirian dan ketergantungan yang menarik. Setelah banyak memikirkannya, saya menarik kesimpulan bahwa pria-pria yang tidak berdaya itu tidak dilahirkan demikian – mereka dibentuk menjadi demikian.

 

Seringkali wanita yang mengeluh tentang ketidakmampuan suami-suami mereka berfungsi di rumah adalah wanita yang sering mengambil alih semua pekerjaan yang dilakukan suami mereka. Jika suami berusaha memakaikan pakaian anak-anak, istri yang disana juga mengomel karena pekerjaan suaminya tidak benar dan mengubah segalanya mulai dari awal. Jika suami mengerjakan cucian, si wanita marah-marah karena ia mencuci handuk kotor bersama roknya. Atau mungkin si wanita tidak mengomel tapi diam-diam mengambil alih dan mengusir pria dari dapur atau ruang cucian.

 

Yang terjadi selanjutnya sungguh luar biasa. Kebanyakan pria dewasa yang dihadapkan dengan tindakan-tindakan seperti itu, hanya menarik diri. Mereka berhenti mencoba membantu. Ketika sang istri mengerjakan segala sesuatunya sendiri, si istri marah dan berpikir, pria seperti apa ini yang duduk tenang nonton tivi padahal istrinya bekerja keras? Sekali rasa hormat hilang, perkawinan juga perlahan akan menghilang. Percintaan? Kamar tidur dingin.

 

Dalam banyak rumah tangga, istri berubah menjadi figur ibu yang mengomel dan bersikeras agar suaminya “mengerjakan segala sesuatu dengan benar.” Padahal pria yang sehat mencari kekasih, teman hidup, sahabat setia – bukan seorang ibu. Banyak pria yang jika saja diberi kesempatan untuk gagal dan ruang gerak serta kemurahan hati untuk bertumbuh bersedia membantu tugas-tugas rumah tangga.

 

Banyak wanita yang mengamati pernikahan saya dengan Daniel mengatakan,” kau begitu beruntung, Daniel begitu senang mengurus anak-anak dan membantu dirumah. Suamiku tidak pernah berbuat begitu.” Saya hanya tersenyum. Tapi sungguh, rasa tanggung jawab suami saya bukan karena keberuntungan, itu karena saya memberinya ruang gerak dan kemurahan hati untuk membantu apa yang bisa ia bantu dan tidak pernah mencoba ‘memperbaiki’ apa yang telah ia kerjakan. Dalam beberapa minggu belakangan ini…

  1. Suami saya memakaikan gaun putrinya terbalik saat pergi ke gereja. Saya berkata, “puji Tuhan, pria ini berinisiatif memakaikan pakaian putrinya.” Tidak sekalipun saya protes
  2. Saya melihat suami saya meletakkan dua pon daging hamburger setengah matang diatas tanah sambil berusaha menggunakan panggangan baru kami. Saya bisa saja menyela, “biar aku yang mengerjakannya! Kau ini tidak bisa mengerjakan apa-apa dengan benar!” Sebaliknya saya mengangkat bahu dan memberinya lebih banyak daging. Kucing-kucing saya menikmati pestanya.
  3. Saya telah berulang kali mengamati sementara tumpukan sampah semakin menggunung sebelum ia membawanya keluar. Saya bisa saja marah dan mengomel dan membuangnya sendiri. Tapi saya anggap itu hanya sampah dan masalah itu tidak penting. Saya berkali-kali menyimpulkan, jika ia bosan dengan tumpukan sampah itu, ia pasti membuangnya.
  4. Saya mendapati pakaian putri saya terlipat rapi di meja hoki yang berada di kamar putra saya. Saya bisa saja mengomel karena Daniel salah menaruh pakaian itu, tetapi saya tidak melakukannya. Saya pikir, puji Tuhan, suami saya melipat pakaian!

 

Jika seorang istri berani memberi suaminya ruang gerak dan kemurahan hati, itu akan memberikan kebebasan pada suaminya. Anda pun akan berubah, anda akan memperoleh rasa hormat yang  baru terhadap suami karena anda tidak lagi memandangnya sebagai anak kecil yang tidak berdaya.

 

Saya adalah istri yang membiarkan suami saya mengurus anak-anak dengan cara yang ia anggap benar. Dunia tidak berakhir karena ia membiarkan anak-anak tidur lebih lambat dan nonton tv bersamanya. Dokter gigi kami tidak akan menggedor-gedor pintu karena suami saya tidak menggosok gigi anak-anak menurut cara saya. Saya membiarkan suami saya menumpuk pakaian kotornya di pojok kamar, sebelum ia membuangkan ke ruang cucian. Itulah yang disebut ruang gerak dan kemurahan hati. Sebagai akibatnya, suami saya memperlakukan saya sebagai kekasihnya, bukan ibunya.