“Legalisme mengatakan Tuhan akan mengasihi kita jika kita berubah. Injil berkata bahwa Tuhan mengubah kita karena Dia mengasihi kita” – Tullian Tchividjian


“Jika kamu belum pernah mengenal kekuatan kasih Tuhan, mungkin itu disebabkan karena kamu belum pernah meminta untuk mengenal kasih itu – maksud saya, benar-benar meminta, mengharapkan sebuah jawaban” – Frederick Buechner, The Magnificent Defeat

“Kekayaan akan pergi, kenyamanan akan menghilang, pengharapan akan memudar, tapi kasih akan tetap bersama kita. Kasih itu adalah Tuhan” – Lew Wallace, Ben Hur

Tuhan yang Tidak Pernah Menyerah

 

 

Tidak semua orang dalam dunia Yesus memberiNya penyambutan yang hangat. Tidak semua orang menerimanya dengan bersyukur. Banyak orang bukan hanya menghindari Dia, tapi mereka juga menolak dia.

 

Yesaya menubuatkan penyambutanNya seperti ini : “Ia dihina dan ditolak orang (Yesaya 53:3 NIV).

 

Yohanes merangkum penolakan Yesus dalam kata-kata berikut : “Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya (Yohanes 1 : 10-11).

 

Bagaimana cara Yesus menghadapi perlakuan seperti itu? Dalam satu momen Dia bisa saja berkata, “Saya berhenti. Cukup sudah.” Tapi mengapa Ia tidak melakukannya? Apa yang menyebabkan Ia tidak menyerah?

 

Saya bertanya-tanya apakah Lee Lepi mengerti jawabannya? Dia adalah pensiunan pemadam kebakaran, seorang pemadam kota New York. Dia bekerja selama dua puluh enam tahun untuk kota itu. Tapi pada tanggal 11 september 2011, dia memberi lebih banyak. Dia memberikan anaknya. Jonathan Lelpi adalah seorang pemadam kebakaran juga. Ketika menara kembar jatuh, dia berada disana.

 

Pemadam kebakaran adalah kaum yang setia. Ketika seorang pemadam meninggal dalam tugas, tubuhnya akan dibiarkan tinggal disana sampai seorang pemadam kebakaran lain yang mengenalnya secara dekat dapat datang dan mengambil dia. Le bertugas untuk menemukan tubuh anaknya. Dia menggali setiap hari bersama belasan orang lainnya di area menara kembar itu. Di hari Selasa, tanggal 11 Desember, tiga bulan sesudah kejadian itu, tubuh anaknya ditemukan. Dan Lee disana untuk mengusungnya.

 

Lee tidak menyerah. Ayah tidak pernah berhenti. Dia menolak untuk menyerah dan pergi. Kenapa? Karena cintanya pada anaknya lebih besar daripada penderitaannya mencari. Dia datang untuk mengeluarkan kita. Dunia kita sudah hancur. Itu sebabnya Dia datang. Kita telah mati, mati karena dosa. Karena itulah Dia datang. Dia mengasihi kita. Karena itulah Dia datang.

 

Karena itulah dia bertahan dalam kesukaran membentangi jarak antara kita. “Kasih… bertahan menghadapi segala sesuatu.”

 

Karena itulah dia menempuh langkah penjelmaan menjadi manusia : “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2 Korintus 5 : 21).

 

Kenapa Yesus melakukannya? Cuma ada satu jawaban. Dan jawabannya hanya satu kata. Kasih. Dan kasih kristus “menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1 Korintus 13 : 7).

 

Pikirkanlah itu sebentar saja. Teguklah hal itu sebentar. Teguklah lebih banyak. Jangan cuma mengisapnya. Inilah saatnya untuk meneguk. Inilah saatnya untuk membiarkan kasihNya melingkupi segala hal dalam hidupmu. Segala rahasia. Segala luka. Segala hal yang jahat, menit-menit kekuatiran.

 

Tahun-tahun yang kamu habiskan dalam prasangka dan kesombongan? Kasihnya menutupi semua itu. Setiap janji yang diingkari, uang yang dicuri, minuman keras yang diminum. Setiap kata-kata yang menyakiti, kata-kata makian, kata-kata kasar. KasihNya menutupi segala sesuatu.

 

Biarkan kasihNya menutupi semua itu. Temukanlah seperti yang ditemukan oleh pemazmur. Dia…..memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat “ (Mazmur 103 : 4). Bayangkan sebuah truk dengan bak raksasa yang penuh dengan kasih. Dan kamu berada dibelakangnya. Tuhan mengangkat bak truk itu sampai kasih turun perlahan keatasmu. Perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, makin banyak, makin banyak, sampai akhirnya kamu terkubur, tersembunyi dalam kasihNya.

 

“Hey, dimana kamu ?” seseorang bertanya.

“Disini, didalam kasihNya.”

 

Biarkan kasihNya menutupi segala sesuatu.

 

Lakukanlah itu untukNya. Untuk kemuliaan namaNya. Lakukanlah itu untukmu. Untuk kedamaian hatimu.

 

Dan lakukan itu untuk mereka. Untuk orang-orang di hidupmu. Biarkan kasihNya memenuhimu sehingga kasihNya itu meluber keluar darimu ke mereka.

 

Oleh : Max Lucado

Diterjemahkan dari : http://maxlucado.com/read/topical/the-god-who-wont-give-up/