Kesaksian

view:  full / summary

Marni, Pembantu yang jadi Motivator Sukses

Posted by silta.ns on January 27, 2013 at 10:00 PM Comments comments (4)

Marni, Pembantu Yang Jadi Motivator Sukses

Wanita ini hanyalah seorang pembantu rumah tangga, namun melalui kehidupannya, dia bisa memberkati orang-orang terpelajar.

“Nama saya Marni, saya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Saat ini saya memimpin sebuah komunitas yang anggotanya orang terpelajar, antara lain D3, S1, bahkan ada yang menjabat sebagai seorang manajer.”

Namun Marni yang ceria dan penuh percaya diri ini, sangat jauh berbeda dengan Marni yang dulu. Dia menyimpan sebuah kenangan pahit di masa lalunya. Kemiskinan dan cacat pada matanya, membuat masa kecil yang harusnya bahagia, hilang berganti menjadi hinaan dan cercaan.

“Saya waktu itu kelas 3 SD. Saat itu saya baru menyadari bahwa fisik saya ada yang kurang, tidak sempurna. Mata kanan saya tidak bisa melihat, hanya yang kiri saja yang bisa melihat. Waktu itu teman-teman sering mengejek saya ‘Marni, matanya bijil (buta sebelah – red)..’ kata-kata itu yang membuat saya sakit hati. Membuat saya sangat sedih. Saya merasa Tuhan tidak adil.”

Marni tidak dilahirkan dalam keadaan cacat, namun karena sebuah kejadian sepele, seluruh kehidupannya berubah.

“Pada saat saya main, mata saya terlempar serpihan genteng. Saya kesakitan waktu itu, dan ketika saya tutup dengan tangan, ada darah di tangan saya. Dari hari ke hari, penglihatan saya semakin berkurang. Dan dalam waktu beberapa bulan, mata kanan saya sudah tidak bisa melihat lagi. Tetapi saya tidak pernah menyadarinya, sampai teman-teman saya mulai mengejek saya di kelas 3 SD waktu itu.”

Hati yang terhujam dengan kekecewaan membuat Marni kehilangan jati diri, dia bertumbuh menjadi remaja yang minder dan sangat rendah diri.

“Ketika saya bertumbuh dewasa, saya mulai merasa minder, pemalu, penakut dan menjadi pribadi yang pendiam. Susah untuk tertawa, bahkan untuk senyum. Untuk bicara di depan dua orang saja saya gemetar, karena saya merasa fisik saya tidak sempurna.”

Didalam ketidak sempurnaan dan keluguannya, Marni pun ingin mengubah nasibnya di Jakarta.

“Waktu itu ada saudara saya yang menawarkan pada saya pekerjaan di Jakarta. Saya bertanya, ‘kerjaan apa?’ dia jawab ‘pokoknya gampanglah nanti. Ikut aku aja.’ Di dalam hati saya ada kerinduan untuk mau pergi ke Jakarta. Pada hal belum jelas pekerjaan yang di tawarkan itu apa. Waktu itu saya masih menjahit di rumah, bahkan masih ada jahitan yang harus saya selesaikan. Lalu saya memberanikan diri untuk meminta ijin kepada orangtua saya. Kalau bapak saya sih mengijinkan, karena semua itu di kembalikan ke diri saya lagi. ‘Kamu sudah besar, kamu sudah bisa memilih apa yang baik untuk diri kamu,’ demikian kata bapak.”

Namun apa yang terjadi ketika Marni sampai di Jakarta, bukanlah yang dia harapkan. Sampai akhirnya Marni bertemu dengan seorang ibu yang mengajaknya bekerja di sebuah rumah tangga. Inilah rumah keluarga Agus Sugianto, tempat dimana Marni mengalami titik balik kehidupannya.

“Kami melihat penampilannya memprihatinkan sekali. Prihatin disini maksudnya kusut, dan banyak hal dalam kondisi fisiknya tidak dirawat, dan tidak di urus. Selain itu juga pembawaannya sangat pemalu sekali, bahkan cenderung menutup diri. Bahkan ketika bicara dengan orang, dia tidak berani menatap mata,” demikian cerita bapak Agus, majikan Marni.

“Saya melihat Marni adalah seorang pribadi yang sangat sensitif. Lalu saya memberanikan diri untuk menanyakan pada Marni, apa yang terjadi dengan matanya. Dan memang, waktu itu Marni menceritakan masa kecilnya dengan menangis,” demikian tutur ibu Mala, istri bapak Agus.

“Kami menempatkan dia sebagai anak kami, dan kami sebagai orang tuanya. Jadi kami melakukan suatu pendekatan, bicara dari hati ke hati. Gimana sih sebenarnya perasaannya dia, kekecewaanya dia,” demikian bapak Agus memperlakukan Marni.

“Kami membimbing dia untuk melepaskan semua kekecewaan yang ada dalam dirinya, tentang keberadaan dirinya. Atau juga penyesalan mengapa semua itu terjadi. Jadi akhirnya waktu itu kami bawa semuanya itu kepada Tuhan, sehingga dia bisa menerima semuanya ini, dan tidak menjadi sebuah penyesalan yang berkelanjutan. Tetapi mempercayai bahwa apapun keberadaan dia, ada sebuah rencana Tuhan bagi dirinya,” Ibu Mala menceritakan bagaimana dirinya dan suami membimbing Marni.



“Waktu itu bapak Agus dan bu Mala mengajarkan saya untuk membaca firman, mengajak untuk berdoa, dan berdoa bersama. Dan sewaktu saya pertama kali membaca Alkitab, saya membaca ‘Oleh karena kamu berharga dimataKu, dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau.’ Sewaktu firman itu saya baca, hati saya merasa tersentuh. Saya mengganti kata kamu dengan nama saya pada ayat itu. ‘Oleh karena Marni berharga di mata Tuhan, dan mulia, dan Tuhan mengasi Marni.’ Saya akhirnya menerima diri saya apa adanya. Walaupun diri saya dalam kekurangan, dan diri saya cacat, tetapi saya menerima diri saya.”

Apa yang menjadi kekurangan dalam diri Marni, kini menjadi sebuah kelebihan. Memimpin dan membina sebuah komunitas, kini menjadi kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh Marni. Inilah cerita dari sahabat-sahabat Marni yang diberkati oleh kehidupannya:

“Mbak Marni itu sudah seperti ibu bagi saya, karena dia ikhlas menolong saya. Bahkan selalu memberikan perhatian yang lebih kepada saya,” ungkap Samuel.

Lain lagi dengan cerita Grace, “Dia selalu memberikan nasihat-nasihat yang positif buat saya. Selalu menguatkan saya pada saat saya mengalami masalah yang berat. Dan juga memberikan dukungan doa pada waktu saya meminta seorang anak pada Tuhan, hingga saya boleh mempunyai seorang anak saat ini.”

“Saya tidak melihat latar belakang pendidikan Mbak Marni, tetapi beliau bisa menjadi teladan buat hidup saya. Karena tidak semua orang yang berpendidikan tinggi itu dapat memberikan teladan,” demikian cerita Hendra Gunawan S, S.H.

“Walaupun saya seorang manajer, tapi saya tidak melihat Mbak Marni sebagai pembantu rumah tangga. Yang saya lihat dari dirinya adalah kerendahan hatinya, dia orang yang bisa memimpin. Dan dia memberikan dampak buat orang lain, serta saya melihat hasilnya.” David Mandoringin, sahabat Marni.

Inilah rahasia perubahan hidup Marni.

“Jadi saya berharga bukan karena apa kata orang, tetapi saya berharga karena apa kata Tuhan. Ketika saya sekarang sudah kenal Tuhan, saya percaya sama Tuhan, dan saya diubahkan. Saya melihat bahwa Tuhan bisa memakai orang yang tidak sempurna. Orang cacatpun bisa dipakai oleh Tuhan. Yang terpenting, ada kerinduan, ada kemauan dan hatinya mau dipakai oleh Tuhan.”.

Sumber kesaksian :

Marni (jawaban.com)

www.kisahnyatakristen.com

Dari Pengkhotbah Cilik Jadi Pengidap HIV/AIDS

Posted by silta.ns on January 27, 2013 at 9:35 PM Comments comments (0)

 

Dari Pengkotbah Cilik Jadi Pengidap HIV/AIDS

Pada tahun 1983, kota Tarutung, Sumatera Utara dibuat heboh oleh seorang anak balita bernama Kaleb Otniel Hutahaean yang dapat menyembuhkan orang sakit hanya dengan berdoa. Dalam waktu singkat namanya menyebar ke berbagai pelosok Indonesia, dan undangan berkotbah untuk Kaleb pun mulai membanjir.

Sekalipun Kaleb menjadi anak ajaib yang dipakai Tuhan untuk menyembuhkan banyak orang, Kaleb tetap berprilaku seperti anak pada umumnya.

“Kalau dia habis kotbah, dia turun, dia langsung main-main seperti biasa,” jelas Ibu Hutapea, ibu angkat Kaleb yang mengurusnya saat itu.

Selama sepuluh tahun lamanya, Kaleb memberitakan firman Tuhan dengan tekun dan dipakai Tuhan untuk menyembuhkan banyak orang. Namun tidak ada orang yang tahu bahwa ada sebuah pergolakan terjadi di lubuk hatinya.

“Banyak hal yang saya tidak mengerti, mengapa saya harus menjalani kehidupan yang berbeda dari anak-anak pada umumnya. Ketika saya berdoa dan bertanya pada Tuhan, sepertinya Tuhan juga terdiam dan tidak menjawab. Akhirnya saya mencari jawaban-jawaban itu dengan cara saya sendiri.”

Hingga satu titik, Kaleb sudah tidak tahan lagi dan meminta ijin pada orangtuanya untuk berhenti dari pelayanan. Orangtua Kaleb dengan penuh pengertian mengijinkannya, dan Kaleb pun akhirnya bisa menjalani kehidupan normal yang ia impikan.

Ditengah masa remajanya itu, sama seperti anak-anak lain, Kaleb pun melakukan pencarian akan jati dirinya. Namun karena salah pergaulan, ia terperosok pada perangkap narkoba.

“Saya waktu itu memiliki banyak waktu luang dan ngumpul dengan teman-teman. Otomatis ngga mungkin kita ngga ngerokok, ngisep ganja bareng-bareng itu sudah pasti. Suka ngga suka, itu sudah merupakan lambang pergaulan. Kalau ngga begitu, ya ngga punya teman. Ada perasaan bangga yang sebenarnya semu, pada akhirnya saya bisa berontak, keluar dari image anak baik-baik,” demikian Kaleb mengungkapkan masa kelamnya.

Petualangan Kaleb tidak berhenti disitu, ia mulai mencoba putaw dan jarum suntik. Baginya saat itu narkoba lebih penting dari pada makan. Tapi semua itu tidak memberinya kebahagiaan, hati kecilnya berbisik dan membuatnya menyadari apa yang ia lakukan adalah salah, namun Kaleb seperti tak berkutik karena telah menjadi budak narkoba.

“Seringkali saya merasa jijik dengan diri sendiri. Di dalam diri ini menuduh, seharusnya saya bisa memiliki kehidupan yang lebih baik dari ini. Ada keinginan untuk kembali lagi ke dalam rangkulan Tuhan, hanya pada waktu itu saya tidak tahu bagaimana caranya.”

Orangtua Kaleb melihat keadaan anaknya sudah tidak terkendali lagi, untuk itu mereka mengambil langkah untuk membawa Kaleb ke panti rehabilitasi.

“Saat di panti rehabilitasi itulah saya ketemu dengan salah seorang mentor baru dimana kami banyak berbincang-bincang dan berdiskusi. Ada suatu kesan dia itu seperti sahabat, dan banyak menasihati saya dari kebenaran firman Tuhan.”

Persahabatannya dengan sang mentor membawa Kaleb kepada sebuah wawasan baru ketika suatu saat ia mencobai sang mentor.

“Saat itu saya di ruang isolasi, saya minta rokok sama dia.”

Sang mentor saat itu berkata, “Ini yang pertama kali dan yang terakhir kali, saya tidak akan pernah lagi beli.” Namun justru peristiwa itu mengubah Kaleb.

“Justru peristiwa ketika dia kasih rokok sama saya membuat saya merasa, ‘Ini dia sebenarnya yang saya cari. Ketulusan yang seperti ini. Orang yang ngga menggurui dan sungguh mengerti kondisi saya.’ Dari situ saya memutuskan untuk berhenti merokok, saya berhenti narkoba dari free sex, karena saya sudah menemukan hati Bapa ketika saya bergaul dengan mentor saya, Redolius,” kenang Kaleb.

Sembuh dari kecanduannya akan narkoba, Kaleb pun memutuskan untuk mencari kehidupan yang baru di sebuah komunitas. Dikomunitas itulah, Kaleb memutuskan untuk menjadikan hidupnya lebih baik. Empat tahun ia jalani dalam keadaan bebas dari keterikatan pada narkoba dan seks bebas serta memberikan hidupnya untuk melayani masyarakat pra sejahtera bersama teman-temannya di komunitas itu, namun sesuatu yang tidak pernah ia duga terjadi.

“Didapati paru-paru kanan saya bolong besar, paru-paru kiri saya bolong kecil-kecil.” Dokter yang menangani Kaleb menyatakan bahwa ia mengidap TBC kelenjar, TBC paru, ada jamur ditubuhnya yang merajalela dan mengalami serangan semacam asma. Namun semua penyakit itu belumlah cukup, vonis dokter yang terakhir ini membuat seakan dunia yang ia miliki hancur.

“Saya positif HIV/AIDS..”

Kaleb bertanya-tanya, mengapa semua itu diijinkan terjadi saat ia sudah bertobat dan sudah kembali melayani Tuhan. Namun dalam kondisinya yang sudah dekat dengan maut saat itu, ia tidak menyalahkan Tuhan.

“Saya menyadari betul siapa saya. Saya sadar perbuatan saya dan saya percaya bahwa Tuhan tidak pernah merencanakan sesuatu yang buruk untuk kehidupan saya.”

Selama berminggu-minggu kondisi Kaleb terus menurun, bahkan untuk bernafaspun ia sulit sekalipun sudah dibantu dengan tabung oksigen. Teman-teman sepelayanan Kaleb terus berdoa dan memberikan semangat kepada Kaleb, mereka memohon kepada Tuhan agar Kaleb diberi kesempatan kedua.

Dukungan yang diberikan oleh rekan-rekannya membuat semangat hidup bagi Kaleb, “Tuhan, kalau Tuhan kasih kesempatan untuk keluar dari ruangan ini, saya akan membuat suatu pertarungan yaitu the last battle yang benar-benar dasyat dan luar biasa. Lalu saya menerima suatu rhema dari Amsal, yaitu ‘Seperti orang yang membuat perhituangan dengan dirinya demikianlah dia.’ Dari ayat itu saya renungkan, saya belajar, baru saya dapati : oh.. ternyata untuk bangkit dari sini saya harus membuat perhitungan yang benar dulu dengan diri saya. Maka dari situ saya mulai mengubah paradigma saya, tidak lagi melihat HIV ini sebagai suatu penghukuman, bukan lagi suatu kutuk, tapi saya melihat HIV ini sebagai suatu kesempatan untuk memuliakan nama Tuhan. Saya melihat ini sebagai suatu amanah, saya melihat ini sebagai suatu tugas. Justru saya melihat seluruh kondisi kehidupan saya ini sebagai suatu kesaksian hidup untuk bercerita kepada orang bahwa pengharapan itu ada.”

Perubahan paradigma pada diri Kaleb membawa perubahan bagi tubuhnya, kondisinya mulai membaik. Setelah menjalani perawatan selama tiga bulan di rumah sakit, hasil cek kesehatan Kaleb menunjukkan sebuah perubahan yang luar biasa. Lobang pada paru-paru kiri dan kanannya telah tertutup semua, bahkan dokter yang melihat hasil roentgen-nya tidak percaya dengan hasil yang ada dan memerintahkan untuk memeriksa ulang.

“Terakhir dia cuma nanya sama saya, ‘Kamu beli nyawa berapa ratus juta?’ Saya cuma tersenyum saja.”

Virus HIV yang merupakan bayang-bayang kematian bagi Kaleb tiba-tiba tidak terdeteksi lagi, bahkan dokter menyatakan bahwa kesehatannya sama seperti orang yang tanpa HIV.

“Hal pertama yang timbul dalam pikiran saya saat itu adalah: ternyata pengharapan itu sungguh ada. Sesudah saya mengetahui fakta-fakta medis yang sangat memuaskan seperti itu, membuat saya semakin bergairah menjalani hidup saya.”

Mengalami mukjizat kesembuhan yang luar biasa itu, membuat Kaleb memutuskan sebuah komitmen yang baru.

“Dulu waktu saya kecil saya melayani berdasarkan kasih karunia, bukan kehendak saya. Komitmen saya kepada Tuhan setelah Tuhan percayakan kehidupan yang kedua ini pada saya, ialah saya melayani dengan hati.”

“Satu alasan mengapa saya tidak kembali ke kehidupan saya yang lama adalah karena kehidupan yang saya jalani sekarang lebih baik daripada kehidupan saya yang dulu,” ungkap Kaleb sambil tersenyum. (Kisah ini ditayangkan 16 Februari 2011 dalam acara Solusi Life di O’Channel.

www.ceritakristen.org

Berjalan di tengah badai

Posted by silta.ns on January 27, 2013 at 9:25 PM Comments comments (0)

 

 

Berjalan Di Tengah Badai

Pada suatu hari, seperti biasanya aku dan ayah bekendaraan menuju ke suatu tempat. Dan aku yang mengemudi. Setelah beberapa puluh kilometer, tiba-tiba awan hitam datang bersama angin kencang. Langit menjadi gelap. Kulihat beberapa kendaraan mulai menepi dan berhenti.

“Bagaimana Ayah? Kita berhenti?”, Aku bertanya.

“Teruslah mengemudi!”, kata Ayah.

Aku tetap menjalankan mobilku. Langit makin gelap, angin bertiup makin kencang. Hujanpun turun. Beberapa pohon bertumbangan, bahkan ada yg diterbangkan angin. Suasana sangat menakutkan. Kulihat kendaraan-kendaraan besar juga mulai menepi dan berhenti.

“Ayah…?”

“Teruslah mengemudi!” kata Ayah sambil terus melihat ke depan.

Aku tetap mengemudi dgn bersusah payah.

Hujan lebat menghalangi pandanganku sampai hanya berjarak beberapa meter saja.

Anginpun mengguncang-guncangkan mobil kecilku.

Aku mulai takut.

Tapi aku tetap mengemudi walaupun sangat perlahan.

Setelah melewati bbrpa kilometer ke depan, kurasakan hujan mulai mereda & angin mulai berkurang. Setelah beberapa killometer lagi, sampailah kami pd daerah yg kering & kami melihat matahari bersinar muncul dari balik awan.

“Silakan kalau mau berhenti dan keluarlah”, kata Ayah tiba-tiba.

“Kenapa sekarang?”, tanyaku heran.

“Agar engkau bisa melihat dirimu seandainya engkau berhenti di tengah badai”.

Aku berhenti dan keluar. Kulihat jauh di belakang sana badai masih berlangsung. Aku membayangkan mereka yg terjebak di sana dan berdoa, semoga mereka selamat.

Dan aku mengerti mengapa ayah menyuruhku tetap mengemudi dan berjalan di tengah badai. Aku melihat mreka yg berhenti dan akhirnya terjebak dalam ketidakpastian dan ketakutan kapan badai akan berakhir serta apa yang akan terjadi selanjutnya.

Jika kita sdg menghadapi “badai” kehidupan, teruslah berjalan, jgn berhenti, jgn putus asa…Sebaliknya teruslah berjalan dan tetap lakukan yang terbaik, serta tentunya mengijinkan Tuhan menuntunmu, engkau pasti mampu melewati badai itu..!


www.ceritakristen.org

Dibalik Lirik Lagu Bapa Sentuh Hatiku

Posted by silta.ns on January 27, 2013 at 9:00 PM Comments comments (0)

Dibalik Lirik Lagu Bapa Sentuh Hatiku

Mungkin banyak yang dengar lagu sentuh hatiku, yang dinyanyikan oleh Maria Shandy. Akan tetapi dibalik lagu itu ternyata ada sebuah kisah yang luar biasa.

Pencipta lagu ini adalah seorang anak Tuhan, Kisah didalam lagu itu adalah milik teman sekolahnya. Temannya itu diperkosa oleh ayahnya sendiri dan menjadi gila, sehingga harus dipasung(dirantai) dirumahnya. Ia suka datang dan mendoakan anak

itu sambil sesekali menulis lirik lagu..

waktu pun berlalu…

Diapun pindah kota dan mulai sibuk dengan kegiatannya sendiri. Suatu ketika anak perempuan itu menelpon dia. Tentu saja kaget bukan main, karena anak itu kan gila. Dipasung pula? kok sekarang bisa lepas? telpon pula?

Akhirnya anak perempuan itu cerita, suatu hari entah karena karat atau bagaimana rantainya lepas. Satu hal yang langsung dia ingat, dia mau bunuh ayahnya!

Tetapi saat dia bangun, ia melihat Tuhan Yesus dengan jubah putihnya, berkata : “Kamu harus memaafkan ayah kamu.”

Tetapi anak itu tidak bisa dan dia terus menangis, memukul, dan berteriak..

Sampai akhirnya Tuhan memeluk dia dan berkata : “Aku mengasihimu”

Walaupun bergumul akhirnya anak itupun memaafkan ayahnya, mereka sekeluarga menangis dan boleh kembali hidup normal.

Dari situ lah lagu sentuh hatiku ditulis,

Betapa ku mencintai, segala yang telah terjadi

tak pernah sendiri, selalu menyertai

Betapa kumenyadari, didalam hidupku ini..

kau selalu memberi, rancangan terbaik oleh karena kasih



Bapa sentuh hatiku,

ubah hidupku, menjadi yang baru

Bagai Emas yang murni

Kau membentuk bejana hatiku



Bapa Ajarku mengerti

sebuah kasih yang selalu memberi..

Bagai air mengalir

yang tiada pernah berhenti

KasihMu ya Tuhan tak pernah berhenti..

Kisah diatas sungguh-sungguh terjadi, semoga bisa menginspirasi kita agar bisa merasakan kasih Tuhan yang luar biasa. God Bless You all

www.ceritakristen.org

Regina Sang Indonesian Idol 2012

Posted by silta.ns on January 27, 2013 at 8:40 PM Comments comments (0)

Kegigihan Yang Membawa Berkat

Kisah hidup Regina ternyata begitu berat dan mengharukan, Benar-benar sebuah perjuangan hidup sejak dia kecil. Sewaktu kecil dia pernah mengalami kecelakaan. Regina, ibu dan adiknya selamat, sedangkan ayahnya meninggal dunia. Regina mengalami patah kaki sampai harus operasi 2 kali. Ibunya menikah lagi, tapi kemudian ayah tirinya juga meninggal dunia.

Karena tertipu investasi, ibunya harus menggadaikan rumah, sampai akhirnya rumahnya di jual dan beli rumah kecil yang sekarang dia tempati bersama ibu dan 2 orang adiknya. Rumah kecil itu direnovasi juga dengan bantuan warga, ada yang bantu pagar, atap, dan sebagainya. Demi mencukupi kebutuhan hidup, Regina sejak kelas 1 SMU menyanyi di Cafe. Kehidupan se-hari-hari juga mengandalkan bantuan dari saudara-saudara ibunya dan setiap bulan mereka mendapat paket sembako dari gereja.



Seperti kita ketahui, Regina gagal mengikuti Indonesian Idol sampai 6 kali !! Bayangkan …GAGAL 6 kali!!. Tapi, dia tidak putus asa, berjuang terus sampai ke-7 kali nya dia berhasil !! Apa yang terjadi kalau waktu itu Regina “Menyerah” pada saat dia gagal pada seleksi Indonesian Idol yang ke 2 atau ke 3 atau bahkan dia berhenti dan menyerah saat yang ke 6 juga masih gagal!! Pasti Regina tidak akan pernah mengalami berkat seperti saat ini “sebagai pemenang Indonesian Idol 2012″.

“The winner sees an answer for every problem. The looser sees the problem in every answer”.

“Seorang pemenang selalu melihat sebuah jawaban di setiap masalah, Sedang seorang pecundang melihat sebuah masalah di setiap jawaban.”

TUHAN menguji kesabaran Regina selama 6 tahun, TUHAN menempa mentalnya, Tuhan menghendaki Regina belajar lebih lagi, dan saudara lihat para juri mengakui bahwa kemampuan Regina di atas lainnya bahkan dapat dipakai sebagai “standar” kualitas bagi Indonesian Idol berikutnya. Wooow….. TUHAN membuat indah pada waktuNYA.

Keberhasilan Regina di Indonesian Idol adalah jawaban TUHAN atas kesabaran dan perjuangannya, terlebih atas doa-doanya.

Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yg menentukan arah langkahnya. kiranya kisah Regina memberi contoh bukan cuman didunia musik saja tapi kegigihannya memberi sebuah inspirasi bagi kita semua sebagai anak-anak Tuhan yang harus terus berjuang untuk memenangkan kehidupan ini dan bertahan sampai seluruh rancangan Tuhan digenapi atas hidup kita.

www.ceritakristen.org

Jangan ngambek, bicaralah.....

Posted by silta.ns on January 25, 2013 at 8:05 PM Comments comments (0)

 

Usia pernikahan saya baru dua umur jagung, tepatnya hampir setahun. Saya menikah pada umur 36 tahun, usia yang sangat matang untuk menikah bukan? Seharusnya dengan usia seperti itu, saya lebih dewasa dalam pernikahan saya, tapi kenyataannya, usia tidak menentukan kematangan seseorang dalam menikah.



Dalam usia saya yang dewasa ini, saya ternyata masih menunjukkan sifat-sifat anak kecil dalam diri saya. Dan semunya itu nampak jelas dalam pernikahan saya yang baru satu tahun ini. Dari kecil dulu, saya terbiasa ngambek atau marah, kalau keinginan saya tidak terpenuhi oleh orang tua saya. Saya rasa mama saya paham akan sifat saya, biasanya beliau malah lebih marah dan diam daripada saya, atau bahkan kadang menangis. Biasanya saya berhenti marah karena saya lapar atau karena saya mau minta uang dari orangtua saya. Saya ingat dulu, waktu saya SMP, saya punya teman yang bercanda dengan mentertawakan kelakuan saya. Saya sangat marah dan tidak mau berbicara padanya selama berminggu-minggu lebih. Teman saya itu sangat sedih dan hampir tiap ada kesempatan ia selalu meminta maaf kepada saya, sebelum saya akhirnya memaafkan dia dan berteman lagi dengannya. Diam-diam saya merasa senang, karena dia merasa bersalah dan sering meminta maaf. Tanpa saya sadari lama kelamaan kelakuan saya jadi kebiasaan. Setiap kali saya tidak suka dengan sesuatu, saya marah, saya diam dan tidak mau berbicara dengan orang yang kelakuannya tidak saya suka, ‘aksi mogok diam’.

Saya baru sadar sekarang, apa yang biasa saya nyaman lakukan sedari kecil, saya lakukan sampai sekarang, termasuk aksi mogok diam ini. Bedanya mungkin, semakin saya dewasa, saya semakin punya banyak alasan ‘yang baik’ mengapa saya melakukan aksi ini. Sehingga mungkin jika ada orang yang menanyakan dan tahu alasan ‘baik’ dari ‘aksi mogok diam saya’ akan mengerti atau bahkan mendukung saya dalam aksi tersebut.

Setelah menikah dan tinggal hanya berdua dengan suami di Canada, tanpa keluarga atau teman dekat, suami saya yang ‘malang’ itu sering menjadi korban keganasan aksi diam saya. Biasanya aksi diam dimulai karena ketidaksukaan saya pada kelakukan suami atau karena keinginan saya yang tidak terpenuhi, sebenarnya semua bermula karena masalah sepele (kebanyakan masalah dalam pernikahan adalah masalah sepele yang dibiarkan sehingga menjadi masalah besar). Pada awal-awal bulan pernikahan kami, aksi diam saya membawa tangis dan air mata untuk saya sendiri dan juga kesedihan plus kebingungan suami saya. Saat saya berdiam, saya sering berharap saya berada dekat keluarga atau teman-teman sehingga saya bisa mencurahkan isi hati saya. Tapi karena saya tinggal seorang diri di Canada dan hanya punya teman-teman yang baru dikenal disini, saya benar-benar merasa sendirian. Saya pernah berpikir, jika ada perang besar antara saya dan suami saya, saya tidak punya pendukung, padahal dia punya keluarga dan teman-teman dekat disini. Saat saya sedang berada dalam keadaan ‘normal’, saya sering menertawakan pikiran-pikiran aneh tersebut, tapi saat sedang stress, sepertinya semua nya itu nyata untuk saya. Akhirnya untuk memenangkan ‘peperangan’, saya keluarkan jurus jitu saya, “kalau kamu ngk mau begitu, saya lebih baik pulang saja ke Indonesia”. Hehehe….. Seperti anak kecil yang ngambek karena tidak dibelikan permen oleh ibunya, begitulah tingkah laku saya, yang berumur 36 tahun, karena keinginannya tidak dipenuhi oleh suaminya.

Tapi lama kelamaan, makin sering saya melakukan ‘aksi diam’ makin saya merasa sendirian, karena tidak ada teman untuk bisa curhat empat mata. Akhirnya karena emosi yang meluap-luap dan tidak ada tempat untuk mencurahkan isi hati, saya berbicara blak-blakan dengan suami saya, menjelaskan dari A sampai Z kenapa saya merasa begitu kesal dengannya. Saya berbicara kepada suami saya seperti ketika saya mencurahkan perasaan saya kepada teman dekat saya. Suami saya mendengarkan dengan sabar keluh kesah sampai saya puas, dan akhirnya dia mulai berbicara menjelaskan. Karena memang masalahnya cuma masalah sepele, kita berdua akhirnya berbaikan kembali.

Kejadian ini berulang-ulang terjadi dalam pernikahan kami, dalam 3 bulan pertama, setiap minggu sekali, pasti akan ada ‘aksi diam’ dan ‘rekonsiliasi’ seperti ini (Saya bersyukur pada Tuhan karena tidak punya sahabat disini, sehingga akhirnya saya selalu ‘terpaksa’ blak-blakan kepada suami mengenal segala hal). Seiring bertambahnya usia pernikahan kami dan kesadaran saya akan tingkah laku saya sendiri, jumlah ‘aksi diam’ dan ‘rekonsiliasi’ seperti itu makin menurun. Tanpa seseorangpun yang memberi tahu pada saya, saya mulai menyadari tingkah laku saya yang seperti anak kecil, ngambek atau marah saat keinginan saya tidak terpenuhi. Dan kami juga menyadari, bahwa jalan terbaik untuk kami berdua ketika ada masalah adalah dengan berbicara lansung, tanpa ditunda-tunda (tapi dilihat situasi dan kondisi dulu). Suami saya sangat menyadari hal itu, ketika saya mulai menunjukkan tanda-tanda ‘ketidaksenangan’, menit berikutnya suami saya langsung bertanya, apa masalah saya. Saya pun mulai belajar untuk tidak menunda-nunda, daripada diam dan berharap dia menebak sendiri mengapa, saya langsung menjelaskan perasaan saya dari A ke Z kepada suami saya.

Saya belajar untuk menjelaskan secara detail ‘ketidaksenangan’ saya pada suami saya – tanpa emosi gila (saya menjelaskan kepadanya seperti saya menjelaskan kepada teman yang belum sama sekali tahu duduk masalahnya). Penjelasan seperti ini, membuat suami saya ‘mendengar’ dan mengerti hingga akhirnya kita berdua bisa mengambil jalan penyelesaian untuk masalah tersebut (masalah sepele). Saya jadinya benar-benar mengerti bahwa seringnya suami saya itu tidak mengerti sama sekali alasan kenapa saya ‘tidak senang’. Dulu ketika saya melakukan ‘aksi mogok’, saya berpikir bahwa seharusnya suami saya mengerti hal ini, dan memperbaikinya. Tapi ternyata, saya sangat-sangat salah, suami saya benar-benar tidak punya petunjuk sama sekali ‘mengapa saya marah’, saya sendiri yang harus mengatakan dengan jelas kepadanya. ‘Aksi mogok’ saya yang lama itu ternyata hanya membawa dampak ketidakbahagiaan pada saya sendiri. Kami berdau sekarang sangat menyadari pentingnya berkomunikasi, jujur berbicara dari hati ke hati mengenai masalah apapun juga. Salah satu buku yang kami berdua baca beberapa bulan lalu untuk saling mengerti ‘bahasa’ kami masing-masing adalah ‘love talk’, tulisan Drs. Les dan Leslie Parrot, kami mengisi kuis online dari internet dan belajar perbedaan ‘cara kami berkomunikasi’, hal itu sangat menolong kami untuk mengerti satu dengan yang lain.

Usia pernikahan kami memang sangat muda, baru 1 tahun, dan kami akan menapaki lagi lebih banyak masalah dalam kehidupan kami mendatang. Tapi dalam 1 tahun pernikahan ini, saya bisa mengatakan bahwa kami merasa bahagia hidup berdua, benar-benar bahagia, dalam susah maupun senang. Tadi malam kami berdansa berdua di rumah, dan menikmati pancaran kasih sayang di mata masing-masing. Kami tahu banyak masalah akan datang menghadang dalam hubungan ini, tapi kami punya satu kunci yang bisa menyelesaikan banyak masalah : ‘berkomunikasi yang baik’. Jangan pendam rasa apapun yang memberatkan hatimu, jangan ngambek, berbicaralah dengan pasanganmu.

Surat B.J Habibie untuk Istrinya

Posted by silta.ns on January 17, 2013 at 12:50 AM Comments comments (0)

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Melainkan yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tidak pada tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu Sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.

Pada air mata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada, aku bukan hendak mengeluh, melainkan rasanya terlalu sebentar kau disini.

Mereka mengira akulah kekasih yang baik bagimu Sayang, tanpa mereka sadari, bahwa Kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik. Mana mungkin aku setia padahal memang kecenduranganku adalah mendua tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Kau dariNya dan kembali padaNya

Kau dulu tiada untukku dan sekarang kembali tiada

Selamat jalan Sayang. Cahaya mataku penyejuk jiwaku.

Selamat jalan. Calon bidadari surgaku.

B.J. Habibie

Mencintainya, apa adanya

Posted by silta.ns on January 17, 2013 at 12:15 AM Comments comments (0)

Saya berdiri di sisi tempat tidur seorang wanita muda yang sedang terbaring. Wajahnya baru saja dioperasi, mulutnya terpelintir seperti badut akibat kelumpuhan saraf. Cabang kecil dari saraf wajahnya, salah satu otot mulutnya, telah disayat. Ia akan terus seperti itu sejak sekarang. Ahli bedah telah mengikuti lekuk dagingnya dengan baik. Namun untuk membuang tumor di pipinya, saya terpaksa harus memotong saraf kecil itu.

Suaminya yang masih muda ada di ruangan itu. Ia berdiri disisi ranjang di seberang saya, dan berdua mereka tampak berada di bawah sorot lampu, berdua saja. Siapa mereka, saya tidak tahu. Pria itu dan wanita dengan mulut miring itu, saling menatap dan menyentuh begitu sering, begitu mesra. Wanita muda itu berbicara.

"Apakah mulut saya akan selalu seperti ini?" tanyanya

"Ya," sahut saya, "akan terus begitu. Karena sarafnya sudah dipotong."

Wanita itu mengangguk dan terdiam. Namun, pria muda itu tersenyum.

"Aku menyukainya," katanya, "cukup manis, kok"

Seketika itu juga, saya yang menyaksikan peristiwa itu tahu siapa pria itu. Saya mengerti dan saya tertunduk. Seperti orang yang tidak berani bertemu dengan Tuhan. Tanpa peduli, ia membungkuk untuk mencium mulut istrinya yang berkerut-kerut. Saya begitu dekat sehingga dapat melihat bagaimana ia memonyongkan bibirnya sendiri untuk menyesuaikan dengan bibir istrinya, dan menunjukkan kepadanya bahwa mereka masih bisa berciuman dengan baik. Saya menahan napas serta membiarkan keajaiban itu masuk.

(kisah nyata dari buku Richard Selzer, M.D : Mortal Lessons; Notes in the art of surgery)

 


Rss_feed